Scroll untuk lanjut membaca
Ragam

MENGARUNGI SISA USIA DALAM DEKAP SAKINAH,BERSAMA SANG JANDA BELAHAN JIWA SEUTUHNYA.

0
×

MENGARUNGI SISA USIA DALAM DEKAP SAKINAH,BERSAMA SANG JANDA BELAHAN JIWA SEUTUHNYA.

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COMKARAWANG 04 JUNI 2026

Dua tahun waktu bergulir dalam sunyi,Aku, seorang duda yang mencari pelabuhan hati.Kini berdiri di persimpangan rasa yang membingungkan diri,Di antara dua bidadari yang mengisi relung mimpi.

Yang pertama, kembang gadis berusia tiga puluh tahun,Pancaran tawanya begitu segar dan menyejukkan kalbu.Ada harap dan masa depan yang membiru,Cintanya polos, menatap masa depan bersamaku.

Yang kedua, sang janda anggun berusia tiga puluh lima,Dua tahun kita lalui dalam suka dan duka bersama.Pesonanya matang, penuh pengertian dan tatap mata dewasa,Pengalamannya mengajariku arti kesetiaan yang sesungguhnya.

Duhai angin malam, sampaikan bimbang ini,Dua tahun telah menanti, menguji hati yang harus memilih pasti.Gadis dengan sejuta pesona dan mimpi yang belum terpatri,Atau janda yang siap merangkai sisa hidup penuh arti.

Dua pilihan, dua calon istri yang bertahta di angan,Satu kembang belia, satu permata penuh pengalaman.Dua tahun bukan waktu sebentar dalam penantian,Keduanya berharga, menguji keteguhan sebuah keputusan.

Tiga tahun sudah badai bimbang itu menderu,Kini waktu telah menjawab segala ragu.Langkahku terhenti, menetapkan satu rindu,Kepada jiwa yang paling tenang mendampingi sepi usiaku.

Maafkan aku, wahai kembang gadis yang jelita,Tiga puluh tahun usiamu kini dalam cerita.Bukan dirimu tak indah atau kurang pesona,Namun hatiku butuh rumah yang sarat akan makna.

Pilihanku jatuh pada sang janda tiga puluh lima, Wanita penyabar yang tak lelah memberi keteduhan.Tiga tahun kesetiaannya diuji oleh ketidakpastian,Namun senyumnya tetap utuh, menjadi sumber kekuatan.

Tangan kokohnya merangkul luka masa laluku,Sifat sabarnya menata kembali hidupku yang sempat layu.Dia bukan sekadar cinta di lembar yang baru,Tapi pelabuhan terakhir tempat jiwaku menyatu.

Selamat tinggal persimpangan yang penuh dilema,Kini aku melangkah bersamanya penuh rasa bangga.Mengarungi sisa usia dalam dekap sakinah yang nyata,Bersama sang janda penyabar, belahan jiwa seutuhnya.

(By Vandamme)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *