NURJATINEWS.COM – KARAWANG 04 JUNI 2026
Langkahku terhenti di persimpangan usia,aku,seorang duda dengan masa lalu yang tertata.Memikul sisa kenangan yang belum juga sirna,hingga datang binar matamu yang tak terduga.
Engkau, gadis belia kembang jelita,anak dari janda yang juga menatapku iba.Kita terpaut jurang kenyataan yang berbeda,namun rasamu tumbuh tanpa jeda.
Duhai puan muda yang keras kepala,aku berkali memintamu kembali menimbang rasa.Pergilah,kataku, carilah yang sebaya, yang tiada cela”Tapi dekapanmu justru semakin erat di dada.
Aku tak peduli pada masa lalumu,” bisikmu di telinga”Aku tak sudi kita harus berpisah karena usia.Engkau menolak logika, bertahan dalam cinta.
Memeluk erat sang duda, tak peduli kata dunia,aku pun luluh oleh kesungguhanmu.Terperangkap dalam ketulusan hatimu,kini kuserahkan sisa hidupku untukmu.
Bersama tekad yang tak akan pernah layu,
dua tahun kita melawan dunia yang bising.Kau dua puluh delapan, aku menua menuju enam puluh satu.
Kita pernah mengira cinta sanggup menyisir hening,namun waktu perlahan menagih tanya yang kaku.Genggaman erat mu yang dulu enggan melepas,kini perlahan melonggar oleh tuntutan masa depan.
Kau adalah bunga yang baru mekar dengan bebas,sedang aku adalah senja yang bersiap menyambut malam.Akhirnya jemari kita terurai juga tanpa paksa,bukan karena rasa yang hilang dari dada.
Tapi karena aku sadar hidupmu masih panjang membentang,dan aku tak boleh menjadi ego yang menghalang.Selamat jalan, gadis pemberani yang pernah menetap.
Terima kasih atas dua tahun yang penuh kehangatan,kini peluklah duniamu yang baru dengan tegap.Biar kusimpan kisah kita sebagai kenangan yang mapan.
(By Vandamme)



