NURJATINEWS.COM – KARAWANG 29 JUNI 2026
Malam membeku di gubuk tua,Ayah termenung menatap lantai tanah.Lembar kertas tagihan menari di kepala,Tak ada koin tersisa, semua telah sirna.
Datanglah si pemilik uang dengan senyum angkuh,Menagih janji yang dulu pernah rapuh.Bayar hutangmu, atau nyawa jadi taruhan.
Jerit sang ayah dalam ketakutan,Si pemilik uang melihat kembang desa.Paras sang anak rupanya memikat hatinya.
Serahkan gadismu untuk jadi istriku,””Maka semua hutangmu kuanggap lunas berlaku.”Ayah menangis, batinnya menjerit perih,Menjual darah daging demi selembar rupiag.
Namun sang anak maju dengan dada tegar,Menatap sang ayah dengan cinta yang sabar.Jangan menangis, Ayah,” bisik suaranya pelan”Aku pergi agar Ayah terbebas dari beban.
“Air mata menetes, surat hutang pun dibakar,Sebuah pernikahan terjadi, hutang pun kelar.Sang ayah kini bebas dari jeratan hutang,Tapi rumah terasa sunyi dan gamang.
Anak tercinta pergi meninggalkan kenangan,Ditukar dengan lunasnya sebuah ikatan.Lima tahun waktu bergulir lambat,Dalam istana megah yang terasa sekarat.
Gadis kecil dulu kini telah dewasa,Tak mau lagi hidup dalam rasa terpaksa.Di depan sang pemilik uang dia berdiri tegap,Membawa selembar kertas yang siap digugat.
Cukup sudah lima tahun ku bayar harga,””Hutang Ayahku telah lunas tiada sisa.””Aku bukan barang yang kau beli selamanya.Kini ku tuntut pisah, kembalikan jiwa yang merdeka.
Sang pria kaya terdiam, kehilangan kuasa,Sebab sang wanita tak lagi bisa dihina.Langkah kakinya ringan keluar dari gerbang,Meninggalkan emas, perak, dan ranjang yang gamang.
Dia pulang ke gubuk tua yang dirindukan,Membawa kebebasan yang lama dinantikan.Ayah menyambut di ambang pintu dengan air mata,Bukan karena sedih, tapi bangga yang tak terkira.Pelukan hangat menyatukan luka lama yang perih,Mereka kembali bebas, tanpa beban yang merintih
(By Vandamme)



