NURJATINEWS.COM – KARAWANG 03 JULI 2026
Bagi seorang duda seperti satria, hidup setelah ditinggal pergi oleh masa lalu terasa seperti musim dingin yang abadi. Dunianya membeku. Ditambah lagi, sebuah penyakit parah menggerogoti fisiknya hingga ia harus terbaring lemah di ranjang rumah sakit selama setahun penuh.
Di tengah sunyi dan dinginnya ruang perawatan yang mirip hamparan salju, ia merasa hidupnya tidak akan lama lagi.Namun, takdir memiliki caranya sendiri untuk mencairkan kebekuan. Takdir itu datang dalam wujud seorang bidan bernama Anisa.
Setahun penuh, Anisa adalah sosok yang paling setia memeriksa kondisinya, mengganti infus, dan memberikan obat. Jemari Anisa begitu lembut saat merawat lukanya. Setiap kali Satria mengeluh kesakitan, Anisa akan melemparkan senyum hangat yang perlahan mengusir rasa nyeri di tubuh Satria.
Senyuman itu bagaikan sinar matahari pertama yang menembus badai salju. Tanpa sadar, di dalam hati Satria yang sempat mati, tumbuh benih-benih cinta yang tulus untuk sang bidan.
Waktu terus bergulir hingga memasuki tahun kedua. Satria akhirnya dinyatakan sembuh total. Namun, hubungan mereka tidak berhenti di ruang perawatan. Getaran di hati Satria ternyata tidak bertepuk sebelah tangan.
Selama dua tahun saling mengenal, Anisa juga mengagumi ketabahan dan ketulusan hati Satria. Mereka melewati hari-hari bersama, merajut komitmen yang kian mendalam.
Sore itu, tepat dua tahun sejak mereka pertama kali bertemu, Satria mengajak Anisa ke sebuah taman. Udara sore cukup dingin, mengingatkan Satria pada awal mula mereka bersua.
Namun, kali ini hatinya penuh dengan kehangatan.Satria menggenggam jemari lembut Anisa—jemari yang dulu menyembuhkan sakitnya. Dengan suara yang sedikit bergetar namun penuh keyakinan, Satria menatap mata Anisa dalam-dalam.
Anisa, dua tahun lalu raga dan hatiku membeku seperti salju. Engkau datang sebagai penyembuh. Hari ini, aku tidak ingin engkau hanya menjadi bidan yang merawatku, tapi aku ingin engkau menjadi teman hidupku.
Maukah kau menikah denganku?”Suasana mendadak hening. Satria menahan napasnya, menunggu jawaban di tengah debaran dada yang kencang,Anisa tertegun sejenak.
Perlahan, sebuah senyuman manis,senyuman hangat yang sangat dikenali Satria,terbit di wajahnya. Anisa mengangguk pelan, air mata bahagia menggenang di pelupuk matanya.
Iya, Mas. Aku mau,” jawab Anisa lirih namun pasti.Dinginnya dunia kini telah usai bagi Satria. Di balik balutan takdir, sang duda yang pernah rapuh itu kini bersiap melangkah ke pelaminan bersama Anisa, sang bidan penyejuk jiwanya.
(By Vandamme)



