Scroll untuk lanjut membaca
Ragam

CERPEN,PERPISAHAN BATIN YANG MENYIKSA SELAMA TUJUH TAHUN,AKHIRNYA MENEMUKAN UJUNGNYA.

7
×

CERPEN,PERPISAHAN BATIN YANG MENYIKSA SELAMA TUJUH TAHUN,AKHIRNYA MENEMUKAN UJUNGNYA.

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COMKARAWANG 15 JUNI 2026

Rumah berlantai dua itu selalu tampak hangat dari luar. Lampu terasnya bersinar terang setiap malam, dan tanaman gantung di beranda selalu tampak segar. Namun, di balik dinding kokohnya, ada sebuah rahasia yang tersimpan rapat selama tujuh tahun,sebuah pernikahan yang berjalan tanpa nyawa.

Semua bermula lima tahun lalu.Agus dan Rodiah tidak pernah bertengkar hebat. Tidak ada piring terbang atau teriakan yang memekakkan telinga. Perpisahan mereka terjadi begitu tenang, seperti air laut yang surut perlahan meninggalkan pantai yang kering.

Perpisahan batin itu mendahului segalanya. Mereka berhenti saling menatap. Ketika berpapasan di lorong menuju dapur, mata mereka akan otomatis beralih pada lantai, pada dinding, atau pada ponsel di tangan—pada apa saja, asal bukan pada manik mata satu sama lain.

Dua tahun lalu, situasi memburuk. Keheningan itu membutuhkan ruang yang lebih tegas.”Aku rasa, kita perlu ruang masing-masing,” ucap Agus malam itu. Itu adalah kalimat terpanjang yang Agus ucapkan dalam kurun waktu tiga bulan.

Rodiah hanya mengangguk tanpa suara. Sejak malam itu, mereka resmi pisah kamar.Agus memindahkan pakaiannya ke kamar tamu di ujung lorong. Pintu kamar yang tertutup rapat menjadi simbol baru dari hubungan mereka.

Rodiah melewatkan malam-malamnya dengan rasa galau yang menggerogoti warasnya. Di atas ranjangnya yang luas namun terasa sempit, ia sering menatap langit-langit, bertanya-tanya di mana letak kesalahan mereka.

Namun, seiring berjalannya waktu, rasa galau itu bermutasi menjadi kepasrahan yang dingin.Rodiah menyerah pada keadaan. Ia membiarkan rumah itu menjadi makam bagi cinta mereka yang telah mati.

Hingga pagi ini, tepat dua tahun sejak pintu kamar itu pertama kali tertutup.Agus duduk di meja makan, tempat yang biasanya mereka hindari secara bergantian. Di tangannya ada secangkir kopi yang sudah mendingin.

Rodiah yang hendak mengambil air minum menghentikan langkahnya saat melihat secarik kertas di atas meja.”Rodiah duduklah sebentar. Ada yang ingin kubicarakan,” suara Agus terdengar datar, namun ada nada ketetapan di sana.

Rodiah menarik kursi, duduk di hadapan pria yang secara hukum masih berstatus suaminya, namun secara jiwa telah menjadi orang asing. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, mata mereka bertemu.

Tapi tidak ada kilatan benci atau rindu, hanya ada kekosongan.”Aku ingin kita resmi berpisah,” kata Rendra langsung pada intinya. “Aku sudah mengurus draf perceraian kita.”Rodiah tidak terkejut. Sudut hatinya yang terdalam sudah memprediksi hari ini akan datang.

Namun, kalimat Agus berikutnya barulah yang memberikan hantaman telak.Dan aku rasa kamu berhak tahu… aku sudah menemukan orang lain. Ada seseorang yang menggantikan posisi yang sudah lama kosong di hidupku.

Hati Rodiah berdenyut perih. Ada rasa hangat yang mendadak naik ke matanya, namun ia menahannya kuat-kuat. Lucu rasanya, selama lima tahun mereka hidup seperti bayangan, dan dua tahun mengunci diri di kamar berbeda, ia mengira dirinya sudah kebas.

Ternyata berita tentang ‘orang baru’ itu tetap mampu menggoreskan luka baru di atas luka lama yang belum sembuh.Rodiah memandang surat cerai di meja, lalu memandang Agus untuk terakhir kalinya.

Rasa pasrah yang dipupuknya selama dua tahun terakhir akhirnya mengambil alih seluruh emosinya. Kesedihan itu menguap, menyisakan sebuah keheningan yang melegakan.

Baiklah,” jawab Rodiah lirih namun tegas. “Jika itu maumu, aku akan menandatanganinya.”Agus tampak tertegun, mungkin tidak menyangka prosesnya akan semudah ini.Ia mengangguk, menggumamkan kata terima kasih, lalu berdiri meninggalkan meja makan.

Rodiah menatap punggung Agus yang menjauh. Kali ini, ia tidak merasa galau lagi. Perpisahan batin yang menyiksa selama tujuh tahun ini akhirnya menemukan ujungnya.Rumah mati ini akan segera runtuh, dan meski jalannya akan terasa berat,Rodiah tahu bahwa keluar dari pintu rumah ini adalah awal baginya untuk kembali bernapas.

(By Vandamme)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *