NURJATINEWS.COM – KARAWANG 16 JUNI 2026
Di ujung gang yang sama, kita berpijak.Aku dengan satu malaikat kecilku, dan kau dengan dua pelita hatimu.
Batas dinding yang tipis seringkali jadi saksi,Bagaimana langkah kaki kita berpapasan, lalu saling menunduk dan mengunci diri.
Sudah satu purnama berganti dua belas kali,Kita terjebak dalam teka-teki rasa yang enggan terucap.
Ada rindu yang tertahan oleh masa lalu yang pernah retak,Ada takut yang membungkam, khawatir langkah ini salah berpijak.
Aku takut bayang masa laluku mengganggu bahagiamu,Dan kau pun ragu apakah pundakmu cukup kuat menanggung kisahku.
Anak-anak kita berlari dan bermain di lorong yang sama,Sementara ayah dan ibunya terjebak dalam debar yang menyiksa.
Satu tahun sudah kita saling mengamati dalam diam,Menitipkan doa di keheningan malam yang temaram.
Apakah kita harus terus begini, membiarkan waktu berlalu,Atau perlahan memberanikan diri, merajut masa depan yang baru.
Duhai pemilik dua hati di seberang sana,Jika ragu ini adalah ujian kesabaran kita,Mungkinkah esok kita berani menyapa,Dan mengubah sunyi ini menjadi sebuah cerita bahagia.
Dua tahun berlalu dalam sunyi yang panjang,Hingga malam ini.kau bawa kami keluar dari sekat dinding yang mengekang.
Di meja makan sederhana ini, lima pasang mata saling menatap,Mengikis ragu yang selama dua puluh empat bulan mendekam rapat.
Anak-anak kita tertawa, berebut lauk yang tersaji,Mencairkan kekakuan yang sempat membeku di dalam hati.
Lalu pandangan kita bertemu di antara denting sendok yang beradu.Kau tersenyum tipis, membuka suara yang selama ini kukira membisu.
Sudah terlalu lama kita bertetangga dalam bimbang,ujarmu lirih,”Melihatmu merawat satu sayap, membuatku ingin memelukmu tanpa pamrih.
Aku punya dua cerita, kau punya satu kisah yang berharga,Bagaimana jika kita satukan semuanya dalam satu atap keluarga.
“Aku tertegun, sendok di tanganku mendadak terasa berat,Namun ada rasa hangat yang menyelinap, meruntuhkan sekat.
Dua tahun terkunci dalam ketakutan akan kegagalan masa lalu,Malam ini pecah oleh keberanianmu yang tulus dan merdu.
Suapan malam ini bukan lagi sekadar pengisi lambung yang sepi,Tapi awal dari dialog dua hati yang sepakat untuk tidak lagi bersembunyi.
Di gang yang sama, kita tidak lagi berjalan sendiri-sendiri,Sebab di meja ini, masa depan baru saja kita mulai beri arti.
(By Vandamme)



