NURJATINEWS.COM – KARAWANG 11 JUNI 2026
Malam baru saja merangkak naik, namun di dalam gedung kelab malam The Golden Lotus, gemerlapnya seolah menembus batas langit. Di sudut VIP, duduklah seorang wanita paruh baya bernama Mami Mawar.
Perhiasan emas yang melingkar tebal di leher dan jemarinya memantulkan cahaya lampu disko, berkilau angkuh seakan mengejek siapa saja yang melihatnya.
Mami Mawar adalah ratu di tempat itu. Dari bisnis terselubung yang ia jalankan,menjadi perantara bagi para wanita mal pundi-pundi uangnya mengalir deras tanpa henti. Ia hidup dalam gelimang harta haram.
Rumah megahnya bak istana di kawasan elite, mobil mewah berjejer rapi di garasi, dan tas-tas bermerek seharga ratusan juta rupiah menjadi koleksi yang biasa baginya.Setiap kali ada yang menegurnya tentang dari mana sumber kekayaan itu berasal,Mawar selalu tertawa sinis.
Baginya, uang adalah segalanya.”Dosa? Surga dan neraka itu urusan nanti. Yang penting hari ini saya bisa makan enak dan hidup seperti ratu,” ujarnya suatu malam sambil menyesap sampanye mahal.
Namun, di balik kemewahan yang kasatmata, ada satu hal yang tidak bisa dibeli oleh uang Mami Mawar ketenangan. Setiap malam, saat hingar-bingar musik mereda dan ia kembali ke istananya yang sunyi, bayang-bayang kelam selalu menghantuinya.
Ia sering teringat pada air mata gadis-gadis belia yang terpaksa ia eksploitasi demi menjaga gaya hidup mewahnya. Jeritan batin mereka sering kali mengusik tidurnya.
Belum lagi rasa cemas yang tak berkesudahan. Ia takut suatu saat hukum manusia akan menangkapnya, atau lebih buruk lagi, hukuman Tuhan yang datang menjemputnya.
Malam itu, nasib berkata lain. Saat ia sedang menghitung gepokan uang hasil transaksi haram di mejanya, tiba-tiba dadanya terasa sesak. Pandangannya mengabur.
Rasa sakit yang teramat sangat menyerang jantungnya. Dalam keadaannya yang terhuyung-huyung, ia menjatuhkan semua lembaran uang tersebut ke lantai.
Uang-uang itu berserakan, tak ada artinya lagi.
Mawar jatuh tersungkur di atas tumpukan harta yang selama ini ia agung-agungkan. Di detik-detik napasnya yang tercekat, ia menyadari satu hal yang terlambat, kekayaan yang diperoleh dengan cara yang keji tidak akan pernah membawa berkah.
Harta haram itu hanyalah ilusi yang memperdaya, membiarkannya mati dalam kehampaan dan penyesalan yang mendalam.
(By Vandamme)



