Scroll untuk lanjut membaca
Ragam

CERPEN, KINI DI GENGGAM ERAT DAN DICIUM DENGAN PENUH HORMAT OLEH DUA SARJANA BARU.

15
×

CERPEN, KINI DI GENGGAM ERAT DAN DICIUM DENGAN PENUH HORMAT OLEH DUA SARJANA BARU.

Sebarkan artikel ini

NURJATIMEWS.COMKARAWANG 11 JUNI 2026

Fajar belum sepenuhnya bangun saat Pak Sukir sudah memanggul karung goni lusuhnya.Di bawah langit Cikampek Karawang yang masih berkabut dingin, kakinya yang hanya beralaskan sandal jepit tipis mulai menyusuri jalanan.

Bau menyengat dari tumpukan sampah di pinggir jalan sudah menjadi sahabat karibnya selama belasan tahun.Bagi orang lain, tempat itu adalah sumber limbah.

Namun bagi Sukir, setiap botol plastik dan kardus bekas adalah napas kehidupan untuk kedua buah hatinya, Danu dan Dila.”Satu botol untuk makan siang mereka, satu kardus untuk tabungan buku sekolah,” bisik Sukir dalam hati setiap kali membungkuk memungut barang bekas.

Jemarinya yang hitam dan kasar seringkali terluka oleh beling atau paku karat, namun rasa perih itu langsung menguap setiap kali ia mengingat senyum kedua anaknya.Sejak istrinya meninggal dunia, Sukir bertekad tidak akan membiarkan Danu dan Dila putus sekolah.

Ia tidak ingin kedua anaknya mewarisi takdirnya sebagai pemulung.Sore hari saat Rahman pulang ke gubuk reotnya, rasa lelahnya langsung luruh.

Danu dan Dila selalu menyambutnya di pintu, berebut mencium tangannya yang bau matahari. Di bawah temaram lampu teplok minyak,Sukir kerap memandangi kedua anaknya yang sedang belajar dengan tekun.

Belajar yang rajin, Nak,Jangan sampai punggungmu merasakan beban seberat yang ayah rasakan,” lirih Sukir sambil mengusap rambut Dila.

Kedua anaknya hanya mengangguk mantap, menyerap setiap tetes keringat ayahnya menjadi bahan bakar semangat mereka.Waktu berlalu bagai kedipan mata.

Karung goni Sukir berganti ratusan kali, dan rambutnya kini telah memutih sepenuhnya. Namun, tekadnya tidak pernah berkurang sedikit pun.Hingga akhirnya, hari yang dinantikan itu tiba.

Sukit berdiri di dalam gedung pertemuan universitas yang megah.Ia merasa canggung mengenakan kemeja batik satu-satunya yang sudah agak pudar, bersanding dengan orang-orang kota yang berpakaian mewah.

Namun rasa canggung itu hilang berganti gemuruh kebanggaan yang luar biasa saat nama Danu dan Dila dipanggil ke atas panggung.Kedua anaknya lulus sebagai lulusan terbaik.

Mengenakan toga hitam yang gagah, Danu dan Dila tidak langsung menuju tempat foto formal. Mereka justru berlari turun dari panggung, menerobos kerumunan, dan langsung bersimpuh di kaki Rahman.

Ayah, kami lulus. Ini semua karena Ayah,” bisik Danu dengan suara bergetar menahan tangis.Air mata Sukir menetes deras meruahi pipinya yang keriput.

Orang-orang di sekitar mereka terdiam, menatap haru,Tangan Sukir yang kasar, yang selama puluhan tahun berkutat dengan sampah, kini digenggam erat dan dicium dengan penuh hormat oleh dua orang sarjana baru.

Di tempat yang megah itu, semua orang tahu bahwa pria tua berbatik pudar itu bukanlah sekadar pemulung. Ia adalah seorang arsitek masa depan, pahlawan sejati yang berhasil mengubah tumpukan jelaga menjadi sepasang permata yang berkilau.

(By Vandamme)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *