Scroll untuk lanjut membaca
Ragam

CERPEN,IA TELAH MENGANTARKAN KAPALNYA SAMPAI KE DERMAGA YANG AMAN.

13
×

CERPEN,IA TELAH MENGANTARKAN KAPALNYA SAMPAI KE DERMAGA YANG AMAN.

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COMKARAWANG 20 MEI 2026

Setiap kali menatap cermin,Mawar selalu melihat guratan garis di wajahnya sebagai peta pertempuran. Sepuluh tahun lalu, suaminya berpulang, meninggalkan dirinya tanpa harta, melainkan seorang bayi laki-laki berusia tiga bulan bernama Dian.

Sebagai janda muda, Mawar menutup rapat telinganya dari gunjingan orang. Ia memilih memikul bakul sayur mengejar fajar, menjahit pakaian hingga larut malam, demi memastikan lambung Dian tak kosong dan pendidikannya tak putus.

Bagi Mawar, tangis Dian di waktu kecil adalah alarm spiritualnya untuk bersujud di sepertiga malam. Ia tidak pernah mengeluh pada semesta.

Setiap tetes keringat yang jatuh ke bumi dikonversinya menjadi doa agar kelak anaknya tumbuh tegar, melebihi rapuhnya dinding kontrakan mereka.

Waktu berjalan merayap, namun perjuangan Mawar berbuah manis. Dian tumbuh menjadi pemuda yang santun dan cerdas.Ketika Dian lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan mapan, Aminah merasa separuh beban di pundaknya terangkat.

Ia sering terduduk di sudut ruang tamu, menatap Dian yang pulang kerja dengan setelan rapi dan senyum penuh pesona. Air mata Mawar kerap menetes, namun bukan lagi karena duka lara, melainkan haru melihat putranya kini hidup sejahtera.

Hingga akhirnya, hari yang paling mendebarkan itu tiba. Rumah mereka yang dulu sepi kini riuh oleh hiasan janur kuning dan untaian bunga melati.

Dian, bocah kecil yang dulu didekapnya dalam dinginnya malam, hari ini berdiri gagah mengenakan pakaian pengantin. Ia bersiap menggenapi janji suci di hadapan penghulu.

Saat khotbah nikah berkumandang,Mawar duduk di barisan depan. Pandangannya terpaku pada jemari Dian yang kini menjabat tangan wali nikah, lalu beralih menggenggam jemari wanita pilihan hatinya.

Ketika kalimat “Sah!” menggema, air mata Mawar tumpah tak terbendung.Ini adalah puncak syukur seorang ibu tunggal.

Tugas berat yang dipikulnya sendiri selama satu dekade kini telah purna. Ia telah mengantarkan kapalnya sampai ke dermaga yang aman.Usai akad, Dian dan istrinya berjalan menghampiri Mawar untuk bersimpuh memohon restu.

Dian memeluk kaki ibunya dengan erat, menangis tersedu mengingat setiap jengkel pengorbanan wanita di hadapannya.Mawar mengusap kepala putranya, lalu berbisik lirik kepada menantunya, “Titip Dian, ya. Cintai dia seperti aku menjaga setiap detak jantungnya.

Di sudut pelaminan itu, di bawah temaram lampu senja,Mawar tersenyum sangat lebar. Perjalanannya mungkin sudah berada di ujung senja, namun melihat anaknya menikah dan bahagia, sempurnalah sudah seluruh arti hidupnya di dunia.

(By Vandamme)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *