NURJATINEWS.COM – KARAWANG 20 MEI 2026
Dua tahun bukanlah waktu yang singkat bagi seorang Aminah. Di sebuah sudut desa yang tenang, ia hidup dalam kesunyian. Menjadi janda di usia muda akibat takdir bercerai dengan suaminya, membuat harinya lebih banyak dihabiskan di dalam pabrik sebagai buruh harian lepas.
Ia pendiam, pemalu, dan selalu menunduk jika ber pasan dengan tetangga. Namun,di balik sikap tertutupnya, ia menyimpan sebuah penantian manis.Setiap sore,Aminah duduk di teras sambil merawat bunga melati yang harum tumbuh subur di pekarangannya.
Kelopak bunganya yang mungil dan harum selalu mengingatkannya pada satu nama Sandi Pria itu adalah sahabat mendiang suaminya yang telah dua tahun ini diam-diam menggantikan posisi di hatinya,Sandi tidak pernah memaksa.
Ia hanya datang sesekali, membawakan buku bacaan, lalu duduk dan tersenyum dari kejauhan tanpa pernah menuntut lebih.Bagi Aminah, Sandi adalah tempat hatinya berlabuh kembali. Ia tahu pria itu menunggunya dengan tulus, meski ia terlalu malu untuk mengungkapkannya secara langsung.
Hari ini, di tengah mekarnya bunga-bunga di halaman,Aminah membiarkan hatinya memberanikan diri. Ia menyelipkan setangkai bunga melati ke dalam sebuah buku yang akan ia titipkan pada Sandi.
Saat senja mulai turun,Sandi datang dengan senyuman hangatnya yang biasa.Aminah menyambutnya, pipinya merona merah menahan malu. Ia menyerahkan buku itu dengan tangan sedikit gemetar.
Sandi menerimanya, menemukan bunga harum tersebut, dan membaca tatapan mata Aminah yang sarat akan jawaban. Dua tahun penantian itu akhirnya bermuara pada senyuman manis yang tak terucap, namun begitu jelas terasa.
Hari yang dinanti akhirnya tiba. Rumah kayu yang biasanya sepi kini dipenuhi dekorasi sederhana bernuansa putih. Aminah berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya dalam balutan kebaya putih polos.
Sifat pemalunya tidak hilang, jantungnya berdegup kencang dan jemarinya saling bertautan erat karena gugup. Namun, ada binar kebahagiaan yang tidak bisa ia sembunyikan.
Di halaman rumah, aroma harum bunga melati yang mekar sempurna menyambut para tamu. Di sanalah, dengan disaksikan keluarga terdekat, Sandi mengucapkan kalimat ijab kabul dengan satu tarikan napas yang mantap.
Air mata haru Aminah menetes saat mendengar kata “sah” bergema. Penantian sunyi selama dua tahun itu kini resmi bermuara pada ikatan suci.Saat Sandi melangkah masuk untuk menemuinya,Aminah mendongak dengan pipi merona merah.
Sandi tersenyum lembut, lalu menyematkan cincin di jari manis istri barunya. Tidak ada lagi jarak dan keraguan di antara mereka.Sandi berbisik pelan di telinga Aminah.
Terima kasih sudah bertahan dalam sepi, dan terima kasih telah memilihku untuk menemani sisa hidupmu.” Aminah hanya mengangguk pelan sambil tersenyum manis,tahu bahwa kesunyiannya kini telah digantikan oleh kehangatan yang abadi.
(,By Vandamme)



