Scroll untuk lanjut membaca
Ragam

CERPEN,MALAM ITU,JORAN PANCING DI SUDUT RUANGAN BENAR BENAR TERLUPAKAN.

17
×

CERPEN,MALAM ITU,JORAN PANCING DI SUDUT RUANGAN BENAR BENAR TERLUPAKAN.

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COMKARAWANG 19 MEI 2026

Aroma kopi hitam dan umpan esens langsung menyengat hidung,Murni saat membuka mata pukul empat pagi.Di sudut ruang tamu, tumpukan joran, pelampung, dan kotak pancing sudah rapi.

Agus, suaminya, sedang sibuk memakai jaket tebal dengan mata berbinar,Aku berangkat dulu ya, Dek.Mumpung cuaca bagus, katanya ikan mas di pemancingan lagi mogok makan kalau siang,” bisik Agus pelan, takut membangunkan Deni, anak laki-laki mereka yang masih mendengkur halus di kamar sebelah.

Murni hanya mengangguk ketus, lalu membalikkan badan membelakangi suaminya.Ada rasa sesak yang akrab di dadanya. Setiap akhir pekan, ritual ini selalu berulang.

Baginya, akhir pekan adalah waktu untuk berkumpul,namun bagi Agus, akhir pekan adalah waktu untuk membebaskan diri bersama kail dan joran.Sepanjang hari, rumah terasa sepi setelah Deni selesai belajar kelompok.

Jam dinding berdetak lambat, seolah mengejek kesabaran Murni yang mulai menipis. Sambil membereskan rumah, pikirannya mengembara.

Ia merasa cemburu pada ikan-ikan di luar sana yang mendapatkan perhatian penuh dari suaminya selama berjam-jam, sementara dirinya di rumah selalu dinomorduakan jika hari libur tiba.

Ibu, Ayah kok belum pulang? Deni mau pamer nilai ujian matematika dapat seratus,” tanya Deni sore harinya, membuat hati Murni makin memuncak. Kekesalannya kini sudah mencapai puncaknya,Ia bertekad untuk mendiamkan suaminya malam ini.

Pukul delapan malam, terdengar langkah kaki di teras rumah,pintu terbuka, menampilkan sosok Agus yang tampak kusam, baju penuh noda lumpur, dan wajah yang kelelahan. Namun, mata suaminya itu langsung berbinar saat melihat Murni dan Deni sedang duduk di ruang tamu.

Dek, Deni, lihat! Ayah tidak pulang dengan tangan kosong!” seru Agus bersemangat. Ia mengangkat sebuah wadah plastik tinggi-tinggi.Di dalamnya, ada lima ekor ikan mas berukuran besar yang masih segar.

Agus tersenyum lebar penuh kebanggaan. “Ini sengaja Ayah bawa pulang untuk kita makan bersama. Maaf ya, Ayah agak telat karena perjuangan narik ikan yang terakhir ini susah sekali, katanya manja sambil menatap Murni.

Wah, besar sekali, Yah! Hebat!” puji Deni sambil melompat kegirangan.Deni pun langsung sibuk bercerita tentang nilai seratusnya, yang disambut pelukan bangga dari Agus.

Melihat wajah suaminya yang polos, lelah, namun begitu bahagia menyambut anaknya, dinding kemarahan yang dibangun Murni seharian penuh langsung runtuh seketika.

Ego di dadanya mencair tanpa sisa, Senyum Murni mengembang begitu saja, bukan hanya karena melihat hasil buruan, tetapi karena rasa syukur melihat suaminya pulang dengan selamat ke pelukan keluarga.”Ya sudah, bawa ke belakang,mas Agus bersihkan sisiknya, aku yang siapkan bumbu kuningnya.

Kita bakar malam ini,” kata Murni lembut, meletakkan tangannya di pundak Agus.Setelah makan malam yang penuh tawa dan cerita, Deni pun pamit untuk tidur lebih awal karena kekenyangan.

Suasana rumah mendadak menjadi tenang dan syahdu,Murni sedang mencuci piring di wastafel saat tiba-tiba sepasang lengan kekar melingkar hangat di pinggangnya dari belakang.

Agus menyandarkan dagunya di bahu Murni, menghirup aroma minyak telon dan pandan yang selalu menjadi ciri khas istrinya.”Maafkan aku ya, Dek,” bisik Agus lembut di telinga Murni.

Aku tahu aku sering egois setiap akhir pekan. Tapi tahu tidak? Sejauh apa pun aku melempar kail di tengah danau, pikiran dan hatiku selalu tersangkut di rumah ini. Di hatimu.”Murni mematikan kran air, lalu berbalik dalam dekapan suaminya.

Ia menatap mata Agus yang lelah namun memancarkan ketulusan yang luar biasa. Rasa kesal yang sempat membakar dadanya seharian kini menguap, berganti dengan debaran hangat yang begitu akrab.

Aku cuma rindu, Mas,” jawab Murni pelan, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Agus. “Ikan-ikan itu tidak butuh kamu, tapi aku dan Deni sangat butuh kamu di sini.

Agus tersenyum, lalu mengecup kening Murni dengan lembut dan lama. “Mulai minggu depan, kuota memancingku potong setengah. Akhir pekan kita jalan-jalan bertiga, janji.”

Malam itu, joran pancing di sudut ruangan benar-benar terlupakan. Di bawah pendar lampu dapur yang temaram, Agus dan Murni saling menggenggam tangan, merayakan kembali kehangatan cinta mereka yang sempat terabaikan oleh hobi, namun selalu menemukan jalan pulang yang tepat.

(By Vandamme)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *