NURJATINEWS.COM – KARAWANG 08 JULI 2026
Empat tahun lamanya langkah ini terbagi,Di antara dua rumah, dua hati yang menanti.Ada istri tua yang setia merawat hari,Menjaga lima anak, buah cinta yang murni.
Namun di sudut lain, ada jembatan yang tersembunyi,Seorang istri muda dinikahi tanpa ada yang mengerti.Bapak berjalan dalam senyap dan kepalsuan,Menyimpan rahasia rapat dari pandangan.
Lima pasang mata anak menatap penuh harap,Saat bapak pulang membawa lelah yang mendekap.Mereka tak tahu ada jiwa lain yang dibagi,Dalam waktu yang dicuri secara semunyi-semuyi.
Setiap kepulangan adalah sandiwara yang rapi,Menahan rasa bersalah yang membakar di hati.Empat tahun bertopeng dalam dua peran,Menanti saat rahasia ini akan menjadi ledakan.
Dua tahun bergulir di atas bara rahasia,Hingga badai kecelakaan meremukkan raga sang bapak tiba-tiba.Di bangsal rumah sakit yang dingin dan sepi,Istri muda datang merawat, memeluk pasrah dalam tangis tanpa tepi.
Tangan lembutnya menyeka peluh dan luka yang parah,Menjaga napas yang kian melemah dengan setia yang pasrah.Hingga langkah kaki istri tua tiba di ambang pintu,Melihat kenyataan pahit yang selama ini membatu.
Amarah yang bersiap meledak mendadak runtuh dan lebur,Melihat suaminya terbujur kaku, di ambang liang kubur.Tiada caci maki, hanya air mata dua wanita yang mengalir,Menghadapi takdir sang bapak yang kini berada di titik akhir.
Istri tua mendekat, menggenggam jemari yang kian mendingin,Memaafkan segala khilaf di bisingnya angin.Istri muda bersimpuh, menyerahkan sisa waktu dengan haru,Menyatukan duka mereka di bawah atap langit yang biru.
Dalam pelukan maaf dan tangis yang bersahutan riuh,Napas sang bapak terhenti, jiwanya kini telah berlabuh jauh.Pergi selamanya, meninggalkan damai yang tersisa,Di antara dua istri yang kini bersatu dalam doa yang sama.
(By Vandamme)


