NURJATINEWS.COM – KARAWANG 08 JULI 2026
Lima tahun lamanya, sekeping hati milik Laila seperti diremas tanpa henti. Di usianya yang masih kepala dua, garis-garis lelah sudah terukir jelas di wajahnya.Rumah tangga yang ia impikan indah, justru berubah menjadi penjara sunyi.
Haris, suaminya, hampir tidak pernah memberi nafkah.Setiap kali Laila bertanya, hanya tatapan dingin atau alasan klise yang ia dapatkan. Untung saja, ada Sarah. Anak perempuan berusia empat tahun.
Itu adalah satu-satunya pelita yang membuat Laila mampu menahan pusing dan sesak di dada setiap kali kaleng susu Sarah kosong.
Dua tahun berikutnya berjalan semakin berat, hingga Laila tiba di titik jenuhnya. Cukup sudah. Janji-janji Haris sudah menjelma menjadi angin lalu yang tidak bisa lagi mengenyangkan perut anaknya.
Suatu malam, dengan modal nekat dan sisa tabungan dari hasil buruh cuci, Laila menggendong Sarah yang terlelap.
Ia melangkah keluar dari rumah itu, menembus dinginnya malam, menuju satu tujuan: Jakarta.Kini, Jakarta yang bising menjadi saksi babak baru hidupnya.
Di sebuah sudut konveksi padat di Jakarta Barat, Laila menghabiskan harinya. Deru mesin jahit yang memekakkan telinga kini menjadi musik harian yang menyemangati jiwanya.
Jemarinya yang dulu halus, kini mulai kasar dan sesekali terluka akibat tusukan jarum. Namun, Laila tidak peduli.Rasa pusing yang dulu menghantuinya karena ketidak pastian nafkah suami.
Kini menguap, berganti menjadi peluh perjuangan yang memuaskan.Pagi itu, lelah Laila mendadak runtuh tak berbekas.
Di depan cermin kontrakan kecilnya,Sarah berdiri tegak mengenakan seragam merah-putih yang rapi. Hari ini adalah hari pertama Sarah masuk Sekolah Dasar.
Laila berlutut, merapikan kerah baju anaknya dengan tangan yang masih menyisakan bekas benang konveksi.”Ibu,Sarah berangkat sekolah dulu, ya.
Sarah mau jadi anak pintar biar bisa bantu Ibu,” ucap bocah itu polos sembari mencium tangan Laila.Air mata Laila nyaris luruh, namun ia cepat-cepat tersenyum dan mengangguk kuat.
Di celah bising dan kerasnya ibu kota, Laila tahu langkahnya tidak salah. Ia mungkin kehilangan seorang suami, tetapi di atas mesin jahit konveksi itu, ia berhasil menjahit kembali masa depan yang cerah untuk anak tercintanya.
(By Vandamme)


