Ragam

DI PT WOOJUNG BINA NUSA BULAK KAPAL,BEKASI,MENJADI MUSIK HARIAN BAGI SITI SOLIHAT.

3
×

DI PT WOOJUNG BINA NUSA BULAK KAPAL,BEKASI,MENJADI MUSIK HARIAN BAGI SITI SOLIHAT.

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COMKARAWANG 11 JULI 2026

Suara deru mesin bordir komputer di lantai produksi PT Woojung Bina Nusa, Bulak Kapal, Bekasi, selalu menjadi musik harian bagi Siti Solihat.

Selama lima belas tahun, jemarinya lincah menata kain, mengganti gulungan benang warna-warni, dan memastikan setiap pola pakaian tercipta dengan presisi.

Rekan-rekan kerjanya menjuluki Siti sebagai “Srikandi Kebumen” karena ketangguhan dan fokusnya yang luar biasa saat mengemudikan mesin jahit raksasa itu.

Namun, di balik bisingnya area pabrik, pikiran Siti sering kali terbang jauh ke sebuah desa di kaki bukit Kebumen. Setiap kali jam istirahat tiba dan ia membuka bekal makan siangnya, aromanya selalu memicu rasa rindu yang mendalam.

Ia merindukan rumah, aroma tanah basah setelah hujan, dan yang paling utama: masakan ibunya. Sambal korek pedas dan sayur lodeh hangat buatan ibu.

Adalah kemewahan yang tidak pernah bisa digantikan oleh warung makan mana pun di perantauan Bekasi.

Rasa rindu itulah yang menjadi bahan bakar Siti untuk terus bertahan menghadapi kerasnya hidup di kota industri.

Waktu terus bergulir, Dua tahun berikutnya berlalu dengan ritme yang sama, hingga total masa baktinya menginjak angka tujuh belas tahun.

Suatu malam, Siti menelepon ke kampung. Suara ibunya terdengar semakin parau dan gemetar, mengabarkan bahwa fisiknya mulai digerogoti usia tua.

Detik itu juga, Siti tahu bahwa misinya di tanah rantau sudah selesai. Tabungannya sudah cukup, dan kini saatnya ia meletakkan semua tanggung jawab pekerjaan demi panggilan hati yang lebih besar.

Siti memutuskan untuk mengajukan pengunduran diri. Hari terakhirnya di Bulak Kapal dipenuhi air mata haru dari rekan-rekan sejawatnya.

Ia meninggalkan bisingnya mesin industri, debu jalanan Bekasi, dan rutinitas belasan tahun yang telah membesarkannya.

Perjalanan pulang ke Kebumen terasa begitu emosional. Saat bus yang ditumpanginya memasuki gerbang kabupaten, hawa sejuk khas pedesaan langsung menyergap wajahnya.

Tidak ada lagi bising suara mesin atau klakson kendaraan yang saling bersahutan.Kini, kehidupan Siti telah berubah sepenuhnya.

Di masa tuanya yang tenang, jemari tangguhnya tidak lagi menyentuh mesin bordir otomatis, melainkan menyuapi, memijat, dan memeluk erat sang ibu yang kini sudah sepuh.

Setiap pagi, Siti terjaga bukan karena alarm shift pabrik, melainkan karena kokok ayam jantan dan aroma masakan ibu yang kini bisa ia nikmati setiap hari langsung dari dapur rumah mereka.

Siti tersenyum kecil di beranda rumahnya; merantau belasan tahun telah mengajarinya arti perjuangan, namun pulang dan berbakti kepada orang tua adalah cara terbaiknya untuk merayakan kemenangan hidup.

(By Vandamme)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *