Ragam

CERPEN,RASA BERSALAH DAN BENCI MENGUAP,DIGANTI OLEH KEDAMIAN YANG TERAKHIR.

0
×

CERPEN,RASA BERSALAH DAN BENCI MENGUAP,DIGANTI OLEH KEDAMIAN YANG TERAKHIR.

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COMKARAWANG 11 JULI 2026

Kehidupan Pak Darma berjalan seperti jarum jam yang teratur, namun di dalamnya menyimpan bom waktu yang siap meledak.

Selama enam tahun, ia hidup dalam dua dunia. Di rumah pertama, ada Bu Rahmi, istri tua yang dinikahinya sejak muda, beserta lima anak mereka yang tumbuh besar.

Di rumah kedua, sebuah rumah kecil di pinggir kota, ada Mutia, istri muda yang dinikahi secara siri empat tahun lalu tanpa sepengetahuan keluarga pertamanya.

Pak Darma sangat rapi membagi waktu. Lima anaknya hanya tahu bapak mereka adalah pekerja keras yang sering dinas luar kota.

Bu Rahmi pun tidak pernah menaruh curiga karena Pak Darma selalu pulang membawa nafkah dan kasih sayang yang utuh.

Namun, sepandai-pandainya menyimpan bangkai, baunya akan tercium juga. Bagi Pak Darma, bau itu tercium lewat takdir yang tragis.

Sore itu, hujan deras mengguyur kota. Truk kontainer hilang kendali dan menghantam mobil Pak Darma hingga ringsek.

Tubuh Pak Darma dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis.Mutia, sang istri muda, menjadi orang pertama yang dikabari oleh rekan kerja Pak Darma.

Dengan jantung serasa copot, ia berlari ke rumah sakit. Selama dua hari dua malam, Mutia tidak beranjak dari sisi ranjang Pak Darma.

Ia menyeka peluh suaminya, mengganti kompres, dan membisikkan doa-doa di telinga pria yang terbaring koma dengan berbagai alat medis di tubuhnya.

Pada hari ketiga, ponsel Pak Darma yang retak di meja berdering. Nama “Istriku Rahmi” tertera di layar. Mutia gemetar. Dengan keberanian yang tersisa.

Ia mengangkat telepon itu dan jujur menyebutkan nama rumah sakit serta nomor kamar tempat Pak Darma dirawat.Dua jam kemudian, pintu bangsal terbuka.

Bu Rahmi masuk bersama anak sulungnya. Langkahnya terhenti saat melihat seorang wanita muda sedang menggenggam erat tangan suaminya sambil menangis.

Atmosfer ruangan mendadak membeku.”Siapa kamu?” tanya Bu Rahmi, suaranya bergetar menahan seribu rasa.Mutia bangkit, air matanya kian deras.

Ia langsung bersimpuh di kaki Bu Rahmi. “Maafkan saya, Mbak… Saya Mutia, istri kedua Mas Darma. Kami sudah menikah empat tahun.

Saya tahu saya salah, tapi tolong… Mas Darma sedang sekarat.”Amarah, dendam, dan rasa dikhianati seketika membakar dada Bu Rahmi.

Enam tahun dibohongi dengan rapi. Namun, saat tatapannya beralih ke ranjang, ia melihat tubuh suaminya yang ringsek, napasnya tersengal-sengal lewat rona mesin.

Seketika, ego Bu Rahmi runtuh. Amarahnya lebur menjadi rasa kemanusiaan dan duka yang mendalam. Tidak ada gunanya mencaci maki di depan pria yang sedang menjemput ajal.

Bu Rahmi mendekati ranjang, lalu menyentuh pundak Mutia agar bangkit. “Sudah… jangan menangis lagi.

Terima kasih sudah merawatnya selama aku tidak ada di sini,” bisik Bu Rahmi lirih, menyembunyikan luka hatinya demi ketenangan suaminya.

Mendengar suara istri tuanya, kelopak mata Pak Darma bergerak sedikit. Setitik air mata mengalir dari sudut matanya yang terpejam.

Ia seolah tahu bahwa rahasia besarnya telah runtuh, namun ia juga mendengar sebuah keikhlasan.Di bawah kesaksian dua wanita yang mencintainya,

Pak Darma mengembuskan napas terakhirnya dengan sangat perlahan. Kamar itu dipenuhi isak tangis yang haru. Dua istri yang semula dipisahkan oleh dinding kebohongan.

Kini berpelukan erat, menyatukan duka di atas kepergian pria yang sama.Rasa bersalah dan benci menguap, digantikan oleh kedamaian terakhir yang bisa mereka berikan untuk melepas kepergian sang bapak.

(By Vandamme)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *