NURJATINEWS.COM – KARAWANG 15 JULI 2026
Di bawah langit fajar Subang yang belum juga terang,Ujang Nurhadi dan Watinah melangkah mantap, meniti pematang.Dua puluh tahun sudah waktu direngkuh,Menyemai benih, memupuk harap, menepis peluh.
Tangan mereka kasar, namun hatinya lapang,Menyapa padi yang menguning, memandang tenang.Dari sepetak tanah yang dulu mereka rintis perlahan,Kini bertransformasi menjadi ladang keberkahan.
Dua puluh musim tanam, dua puluh musim panen,Tak ada lelah yang mengalahkan tekad yang paten.Rumah yang kokoh kini berdiri tegak menaungi,Buah dari sabar dan syukur yang tak henti diuji.
Sawah membentang hijau menjadi saksi bisu,Perjalanan panjang yang tak kenal waktu berlalu.Dan di kandang belakang, gemuk beberapa ekor sapi,Menjadi pelengkap rezeki dari Sang Maha Kuasa yang menepi.
Bagi Ujang Nurhadi dan Watinah, tanah adalah bait puisi kehidupan,Yang ditulis dengan cangkul, doa, dan kesetiaan.Cinta mereka tumbuh subur bersama suburnya tanaman,Kisah petani sejati, pahlawan tanpa tanda jasa, pembangun kemakmuran.
Delapan tahun berlalu, Ujang Nurhadi beralih profesi dari bertani menjadi jurnalis di media Buana Minggu untuk menikmati masa tuanya bersama Watinah.
Melalui tulisan, Ujang Nurhadi menyuarakan kisah pedesaan yang didampingi Watinah di masa tua yang tenang.Perubahan haluan ini membuktikan bahwa usia senja bukanlah penghalang untuk terus berkarya.
Ujang Nurhadi kini menjadi jurnalis yang disegani,Ujang Nurhadi kini telah bertransformasi dari seorang petani menjadi jurnalis senior yang disegani di Buana Minggu.
Melalui pena yang tajam, ia terus menyuarakan kebenaran dan menanamkan keadilan di hati masyarakat.Di usianya yang senja, Ujang Nurhadi bertransformasi menjadi jurnalis kreatif di Buana Minggu.
Melalui sentuhan kearifan lokal dalam tulisannya, ia berhasil mengubah kisah biasa menjadi karya jurnalistik yang penuh hikmah dan memikat pembaca.
(By Vandamme)


