Ragam

CERPEN,CINTA MEREKA GAGAL BERSATU DI PELAMINAN,MENJADI PENGANTIN ABADI DIDALAM DIHATINYA

8
×

CERPEN,CINTA MEREKA GAGAL BERSATU DI PELAMINAN,MENJADI PENGANTIN ABADI DIDALAM DIHATINYA

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COMKARAWANG 15 JULI 2026

Lampu jalanan Karawang bergoyang ditiup angin malam. Di sebuah teras rumah sederhana, tumpukan kertas undangan berwarna krem tergeletak di atas meja.

Di sudut kanan atas undangan itu, terukir dua nama yang sebentar lagi akan mengikat janji: Wawan & Sari.Wawan, seorang duda beranak satu, tersenyum menatap kertas-kertas itu.

Tiga bulan lagi, Hanya tinggal sembilan puluh hari lagi sepi yang menggelayuti hidupnya setelah kepergian mendiang istrinya akan sirna.

Sari, seorang janda berhati emas dari Subang, adalah wanita yang berhasil mengetuk kembali pintu hatinya yang lama terkunci.

Sari adalah ketenangan di tengah badai hidup Wawan. Jarak Karawang–Subang yang membentang tidak pernah menjadi halangan.

Setiap akhir pekan, Wawan rela menempuh perjalanan jauh demi melihat senyum wanita yang sebentar lagi akan menjadi ibu sambung bagi anaknya.

Segala persiapan sudah hampir matang. Gedung telah dipesan, pakaian pengantin sudah diukur, dan cincin emas sudah melingkar manis di dalam kotak beludru merah.

Namun, manusia hanya bisa merajut rencana, sementara takdir memegang guntingnya.Sore itu, langit di atas jalur Pantura Subang tampak begitu kelabu.

Sari sedang dalam perjalanan pulang setelah mengurus beberapa dokumen pernikahan di balai desa. Motor matic-nya melaju membelah jalan raya nasional yang terkenal padat dan rawan tersebut.

Di jalur lurus yang panas itu, sebuah truk besar kehilangan kendali akibat rem blong.Dentuman keras memecah kebisingan Pantura.

Dalam hitungan detik, segalanya berubah menjadi genangan darah, jeritan warga, dan sirine ambulans yang meraung-raung.

Sari mengembuskan napas terakhirnya di atas aspal jalan raya yang panas, tiga bulan sebelum dia sempat mengenakan gaun pengantinnya.

Kabar itu sampai ke telinga Wawan bak petir di siang bolong. Ponselnya terjatuh, layarnya retak, sama seperti hatinya yang hancur berkeping-keping.

Wawan langsung memacu kendaraannya menuju rumah sakit di Subang dengan air mata yang terus mengalir deras, membasahi pipinya sepanjang jalan.

Sesampainya di sana, yang ia dapati bukan lagi senyum hangat Sari, melainkan tubuh kaku yang terbujur di balik kain kafan putih. Hari yang seharusnya penuh dengan tawa bahagia, kini berganti menjadi tangisan pilu di pemakaman.

Kini, tiga bulan telah berlalu. Hari ini seharusnya menjadi hari pernikahan mereka. Wawan berdiri di tepi jalan Pantura Subang, tempat di mana belahan jiwanya pergi untuk selamanya.

Di tangannya, mendekap erat sekuntum bunga mawar putih dan selembar undangan pernikahan yang tak pernah sempat disebarkan.Cinta mereka gagal bersatu di pelaminan dunia, namun Wawan tahu, Sari akan selalu menjadi pengantin abadi di dalam hatinya.

(By Vandamme)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *