Ragam

CERPEN,UJANG NURHADI MEMILIH BANTING SETIR MENJADI JURNALIS BUANA MINGGU.

10
×

CERPEN,UJANG NURHADI MEMILIH BANTING SETIR MENJADI JURNALIS BUANA MINGGU.

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COMKARAWANG 15 JULI 2026

Aroma tanah basah setelah hujan selalu berhasil membawa ingatan Watinah kembali ke masa dua puluh tahun lalu.

Di hamparan sawah wilayah Subang yang membentang hijau, ia dan suaminya, Ujang Nurhadi, memulai segalanya dari nol.

Dengan modal peluh dan keyakinan, mereka berdua menggarap petak demi petak lahan, menantang terik matahari dan dinginnya angin malam.

“Pertanian itu bukan cuma soal menanam padi, Tin. Ini soal merawat kehidupan,” kata Ujang malam itu, sembari membersihkan sisa lumpur di kakinya.

Watinah tersenyum, mengamini komitmen suaminya dengan menyodorkan secangkir teh hangat.Selama dua dekade, dedikasi mereka membuahkan hasil luar biasa.

Sistem irigasi swadaya yang dirancang Ujang bersama kelompok tani lokal sukses mengubah lahan tandus menjadi lumbung pangan yang disegani di Subang.

Nama Ujang Nurhadi dan Watinah dikenal luas sebagai ikon petani sukses yang mandiri dan inovatif. Kesejahteraan mengalir, tetapi bagi Ujang, ada kepuasan lain yang belum tuntas.

Menyuarakan nasib para petani yang sering kali tenggelam di balik hiruk-pijuk kebijakan.Perubahan besar itu terjadi delapan tahun kemudian.

Di usianya yang tidak lagi muda, Ujang Nurhadi mengambil langkah berani yang membuat banyak orang terkejut. Ia menyerahkan pengelolaan harian sebagian besar lahan pertaniannya kepada generasi muda binaannya dan sang istri.

Lalu memegang sebuah senjata baru: kamera dan pena. Ujang Nurhadi memilih banting setir menjadi seorang jurnalis Buana Minggu, Watinah menjadi jangkar utama dalam keputusan besar itu.

Di saat orang lain meragukan kemampuan Ujang menulis berita di usia senja, Watinah justru yang pertama kali meyakinkannya.

“Dua puluh tahun kita di ladang, Akang sudah tahu betul seluk-beluk jeritan hati masyarakat bawah. Tuliskan itu,” bisik Watinah.

Latar belakangnya sebagai praktisi lapangan membuat karya jurnalistik Ujang berbeda dari wartawan kebanyakan.

Artikel-artikel investigasinya mengenai tata niaga pupuk, sengketa lahan, hingga potensi agrowisata Subang ditulis dengan akurasi tajam dan empati yang mendalam.

Ujang Nurhadi tidak sekadar melaporkan peristiwa; ia membawa ruh dari tanah yang pernah digarapnya ke dalam setiap baris berita.

Kini, delapan tahun berlalu sejak langkah pertamanya di dunia media, Ujang Nurhadi telah bertransformasi menjadi salah satu jurnalis yang paling disegani di wilayahnya.

Keberaniannya membongkar ketidakadilan, dipadukan dengan kebijaksanaan hidup seorang mantan petani, membuatnya dihormati baik oleh pejabat daerah maupun masyarakat kecil.

Malam itu, di teras rumah mereka yang asri di Subang, Ujang duduk memandangi layar laptopnya yang menampilkan draf tulisan terbaru.

Watinah berjalan mendekat, meletakkan secangkir teh yang sama seperti dua puluh delapan tahun lalu.”Tulisan bagus, Kang?” tanya Watinah lembut.

Ujang Nurhadi mendongak, menatap mata wanita yang selalu mendampinginya melewati dua dunia yang berbeda. “Ini tentang masa depan pangan kita, Tin. Dulu kita merawatnya dengan cangkul, sekarang kita menjaganya dengan pena.”

(By Vandamme)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *