NURJATINEWS.COM – KARAWANG 15 JULI 2026
Gerimis tipis mengguyur Pemalang sore itu, seolah ikut merasakan pedih di hati Aan Seftia. Bagi Aan kecil, rumah bukanlah tempat berlindung yang aman.
Sejak ibunya menikah lagi, hari-harinya berubah menjadi rangkaian kerja keras tanpa henti dan cacian yang memekakkan telinga.
Sebagai anak tiri, ia selalu menjadi pihak yang disalahkan atas segala hal yang berjalan salah di rumah.
Saat anak-anak seusianya asyik bermain layang-layang di lapangan, jemari kecil Aan justru sudah kasar karena harus mengupas bawang, mencari kayu bakar, dan membersihkan rumah.
Pahit getir kehidupan sudah kenyang ia telan sebelum waktunya.Namun, di dalam dada Aan, ada api yang tidak pernah padam.
Ia menolak untuk menyerah pada takdir. Sambil menahan perih di perutnya yang sering kelaparan, Aan berjanji pada diri sendiri bahwa suatu hari nanti, roda nasibnya harus berputar.
Begitu menginjak usia remaja, dengan modal nekat dan selembar tiket bus, Aan memutuskan pergi meninggalkan Pemalang.
Kota tujuan pertamanya adalah Jakarta. Ibu kota menyambutnya dengan cuaca yang terik dan persaingan yang kejam.
Aan memulai semuanya dari nol.dari operator mesin bordir komputer, di PT Barusan Kuat ia belajar satu hal penting: mental baja adalah satu-satunya senjata untuk bertahan hidup.
Merasa butuh tantangan baru untuk mengubah nasib, Aan bergeser ke Bandung. Di Kota Kembang, ia mulai melirik dunia mode.
Dari menjadi pelayan toko pakaian di kawasan jalan raya yang sibuk, Aan belajar bagaimana cara melayani pelanggan, mengelola stok barang, hingga memahami selera pasar.
Kreativitas dan keramahannya membuat banyak orang menyukainya. Perlahan, Aan mulai mengumpulkan modal sedikit demi sedikit dari sisa gaji yang selalu ia hemat secara ketat.
Langkah besar Aan terjadi ketika ia memutuskan pindah ke Tangerang, kota industri yang sedang berkembang pesat.
Dengan modal pengalaman dari Jakarta dan ilmu dagang dari Bandung, Aan memberanikan diri membuka usaha kecil-kecilan di bidang kuliner.
Dan Tahun-tahun pertama di Tangerang dipenuhi dengan kerja keras hingga larut malam. Aan seringkali hanya tidur 5 jam sehari untuk memastikan pesanan pelanggannya selesai tepat waktu.
Jujur, tepat janji, dan pantang menyerah adalah prinsip utama yang ia pegang teguh. Perlahan tapi pasti, bisnis kulinernya berkembang.Kini, Aan Seftia bukan lagi anak tiri yang berjalan menunduk di sudut kampung di Pemalang.
Ia telah bertransformasi menjadi seorang yang sukses di Tangerang yang dihormati. Saat ia kembali menengok masa lalunya, Aan tidak lagi merasa dendam.Baginya, seluruh kepahitan di masa kecilnya adalah bumbu yang membentuknya menjadi sosok wanita yang tangguh seperti sekarang.
(By Vandamme)


