Ragam

CERPEN,RUMAH YANG DULU SELALU DICEKAM KETAKUTAN PENAGIH HUTANG,KINI MENJADI TEMPAT YANG RAMAI

11
×

CERPEN,RUMAH YANG DULU SELALU DICEKAM KETAKUTAN PENAGIH HUTANG,KINI MENJADI TEMPAT YANG RAMAI

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COMKARAWANG 11 JULI 2026

Bagi Angling warung kelontong Bu Mawar di ujung gang bukan sekadar tempat membeli kopi, melainkan penyelamat hidup,atau lebih tepatnya, tempat pelarian.

Hampir setiap sore,Angling duduk di sana dengan senyum ramah yang khas. Namun, semua warga kampung tahu, senyum itu biasanya disusul oleh kalimat sakti,

Tolong dicatat dulu ya, Bu. Bulan depan pasti saya lunasi.”Bu Mawar hanya bisa menghela napas panjang sambil membuka buku catatan bergaris yang sudah lusuh.

Di sana, nama Anling menguasai beberapa halaman penuh. Kebiasaan ini bukan baru berjalan satu atau dua bulan, melainkan sudah menjadi hobi yang mendarah daging selama sepuluh tahun terakhir.

Di rumah,Bu Aminah, istrinya, sudah kenyang menahan malu.Setiap mendengar suara motor berhenti di depan rumah, jantungnya berdebar kencang.

Ia tahu itu pasti penagih utang, entah dari bank keliling atau tetangga sebelah.Sementara Angling selalu punya seribu alasan untuk menghindar, meninggalkan Bu Aminah yang harus menghadapi caci maki sendirian.

Waktu terus merayap hingga sepuluh tahun berikutnya. Kini, total dua dekade Angling hidup dari satu pinjaman ke pinjaman lain. Namun, hukum alam tidak bisa dikelabui.

Warung-warung yang dulu memberi kelonggaran kini mulai menutup pintu rapat-raapat. Pintu rezeki Angling seolah tersumbat total. Pekerjaan serabutan yang dilakukannya makin sepi.

Dan uang yang didapat selalu menguap seketika hanya untuk membayar bunga pinjaman yang terus membengkak.Dampak dari pikiran yang terus dikepung tagihan mulai menggerogoti tubuh Angling

Pria yang dulunya selalu tampak santai itu kini mulai sakit-sakitan. Setiap kali ada ketukan keras di pintu depan, dadanya langsung sesak dan jantungnya berdebar tidak karuan.

Rambutnya memutih sempurna, dan tubuhnya kian ringkih digerogoti penyakit komplikasi akibat stres berkepanjangan.Kini,Anglin hanya bisa terbaring lemah di ranjang kamarnya yang sempit.

Menatap langit-langit rumah, ia meratapi nasibnya yang malang di hari tua. Buku utang yang dulu dianggapnya sebagai penyelamat, kini berubah menjadi rantai tak kasat mata yang menjerat kesehatan.

Keharmonisan keluarga, dan ketenangan hidupnya yang tak kunjung kembali,melihat bapaknya terbaring ringkih,Aris, sang anak sulung, sadar bahwa ia tidak bisa tinggal diam.

Sebagai anak tertua, Hamid memutuskan untuk mengambil alih kemudi keluarga. Ia tahu, mengutuk masa lalu tidak akan menyelesaikan masalah.

Langkah pertama yang ia lakukan adalah mendatangi satu per satu tetangga dan pemilik warung, termasuk Bu Ida, untuk mencatat total utang bapaknya secara akurat sekaligus memohon waktu pelunasan.

Hamid yang baru saja menyelesaikan pendidikan vokasi bidang otomotif tidak gengsi bekerja apa saja. Siang hari ia bekerja di bengkel besar kota, dan malam harinya ia mengumpulkan modal dengan membuka jasa servis motor panggilan di teras rumahnya yang sempit.

Ketekunan dan kejujuran Hamid dalam memperbaiki kendaraan perlahan mulai didengar oleh warga kampung. Banyak orang yang bersimpati pada perjuangannya dan memilih menyervis kendaraan di tempat Hamid.

Melihat anak sulungnya memeras keringat dari pagi hingga larut malam demi membayar kesalahan masa lalunya, hati Angling hancur berkeping-keping.

Suatu malam, dengan air mata yang mengalir di pipinya yang cekung, Angling memanggil Aris ke kamarnya. Di hadapan Aris dan Bu Aminah,Angling mengakui segala kesalahannya dan memohon maaf dengan tulus.

Ia berjanji demi sisa hidupnya tidak akan pernah lagi menyentuh uang pinjaman.Momen insyaf sang bapak menjadi obat penawar stres yang selama ini menyumbat kesehatannya.

Perlahan, kondisi fisik Angling mulai membaik.Dua tahun bekerja keras tanpa henti,Hamid akhirnya berhasil mengumpulkan modal yang cukup untuk membuka usaha bengkel mandiri di depan rumah mereka.

Bisnisnya berkembang pesat karena Hamid selalu mengutamakan pelayanan yang jujur tanpa tipu-tipu. Sebagian keuntungan bengkel dialokasikan secara ketat untuk mencicil utang lama bapaknya hingga lunas tak bersisa.

Rumah yang dulunya selalu dicekam ketakutan akan penagih utang, kini berubah menjadi tempat yang ramai oleh deru mesin motor pelanggan dan tawa hangat keluarga yang telah lahir kembali.

(By Vandamme)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *