NURJATINEWS.COM – KARAWANG 11 JUNI 2026
Suasana sepi di Perum Bumi Persada, disinilah Salmi tinggal bersama anak perempuannya yang berusia sepuluh tahun, berkulit langsat dan bermata sendu bernama Nabila.
Tepat tiga rumah dari rumah Salmi, hidup Taufik, seorang duda yang sudah membesarkan dua anak perempuan yang sudah dewasa,Ratih dan Puspa
Selama dua tahun, hubungan Salmi dan Taufik hanya sebatas anggukan sopan saat berpapasan di pagi hari. Ada debar yang tidak biasa setiap kali mata mereka bertemu, namun ada benteng tak kasat mata yang membungkam lidah mereka.
Status sebagai orang tua tunggal yang pernah terluka membuat keduanya terlalu berhati-hati. Mereka sama-sama takut melangkah, takut penolakan, dan takut merusak ketenangan hidup anak-anak mereka.
Namun, anak-anak memiliki cara sendiri untuk meruntuhkan sekat.Ratih dan Puspa sering kali menjemput Nabila untuk bermain dan beli jajan diwarung.Dua hati yang lama bersembunyi akhirnya menemukan jalan pulang Taufik Dari balik jendela,Salmi sering tersenyum melihat interaksi itu.
Dari seberang jalan,Taufik pun melakukan hal yang sama.Dua tahun berlalu dalam kode-kode bisu, hingga suatu Sabtu siang,Taufik mengumpulkan keberanian yang telah ia pupuk selamanya dua puluh empat bulan.
Salmi kalau tidak keberatan, maukah akhir bulan kita makan bersama kami di RM Lesehan Karawang ,sambil membawa Anak atau ibu kamu.dan itu sudah direncanakan secara matang.
Salmi sempat ragu, namun tatapan memohon dari Nabila anaknya membuatnya mengangguk pelan.Di kedai RM Lesehan Karawang itu suasana awalnya terasa kaku.
Salmi sibuk menyuapi Nabila, sementara Taufik makan ayam goreng, sambel, lalapan dan tahu tempe dan suasana perlahan mencairkan kecanggungan.
Taufik meletakkan piringnya Ia menarik napas dalam-dalam.Salmi panggil Taufik, suaranya mendadak berat dan serius.Salmi mendongak, menatap mata di hadapannya.
Sudah dua tahun kita hidup di gang yang sama. Selama itu juga, saya mengagumi ketangguhan Mbak merawat Nabila,” ucap Taufik jujur, tanpa basa-basi lagi. “Saya tahu kita sama-sama punya masa lalu yang menyakitkan.
Jujur, saya sempat ragu karena saya usianya sudah tidak muda lagi,tapi siang ini, melihat Salmi bersama Nabila, saya ingin hidup bersamamu.jantung Salmi berdegup kencang. Jemarinya saling bertautan di bawah meja.
Saya tidak ingin kita terus berjalan sendiri-sendiri di gang itu.usia saya tidak muda lagi dan punya dua cerita yang sudah mandiri,dan Salmi punya satu kisah.Bagaimana jika kita satukan semuanya di bawah satu atap yang sama.
Saya ingin belajar menjadi pelindung untuk Salmi dan Nabila.”Suasana mendadak hening di telinga Salmi mengalahkan suara bising jalan raya. Ketakutan yang selama dua tahun ini mengunci hatinya perlahan runtuh mendengar ketulusan Taufik.
Salmi memandang Nabila, lalu sepasang matanya berlabuh pada tatapan hangat Taufik.Salmi tersenyum tipis, sebuah senyuman yang selama dua tahun ini selalu Taufik tunggu.”Ayam gorengnya hampir habis.
Kita nambah dulu, setelah itu mari kita bicarakan masa depan kita yang masih panjang. jawab Salmi lembut.siang itu,di RM Lesehan Karawang dua hati yang lama bersembunyi akhirnya menemukan jalan pulang.Mereka tidak lagi sekadar bertetangga dalam bimbang, melainkan bersiap melangkah bersama sebagai satu keluarga yang baru.
(By Vandamme)


