NURJATINEWS.COM – KARAWANG 07 JUNI 2026
Dua tahun sudah sepi ini menyapa,Selepas kepergian ayah yang tiada tara.Kini hadir seorang pria mengetuk pintu rasa,Mengajakku kembali merajut bahagia.
Namun sayang, langkahku mendadak kaku,Melihat binar kecewa di mata buah hatiku.Ada benteng ego yang dibangun anakku,Menolak hadirnya sosok pengganti di hidupku.
“Ibu, cukuplah aku dan kenangan lama,”Bisik lirihnya dalam balutan dilema.Ia takut kasih sayang terbagi dua,Atau sosok ayah baru merubah segalanya.
Duhai malaikat kecilku yang kini telah dewasa,Dengarlah rintih hati seorang wanita.Menjanda bukanlah pilihan yang mudah kurasa,Kesendirian ini kadang membuatku lelah bernyawa.
Bukan maksudku melupakan cinta pertama,Atau menggeser posisi ayah di dalam dada.Aku hanya butuh pendamping di hari tua,Tempat berbagi lelah hingga akhir menutup mata.
Ya Rabbi, lembutkanlah hati anakku tercinta,Berikan ia kelapangan dan juga rida.Restunya adalah kunci berkah rumah tangga,Agar bahagia ini utuh tanpa ada air mata.
Tiga tahun kini waktu telah bergulir,Sabar yang kupupuk kini mulai mengalir.Dinding keras di hati anakku akhirnya mencair,Membuka jalan bagi bahagia yang sempat terkirir.
Sebuah kecupan lembut mendarat di pipi,Diiringi bisik lirih yang menyeka sepi.“Ibu, menikahlah, jemput kembali mimpi,Aku ikhlas melepasmu merajut hari.
Air mata haru tak bendung menetes,Menghapus segala duka yang sempat menggores.Penantian panjang ini berbuah sukses,Saat restu sang anak kini merasuki proses.
Ia sadar kasihku takkan pernah terbagi,Memori tentang ayahnya pun tetap abadi.Sosok baru ini datang bukan untuk mengganti,Melainkan menjaga ibu hingga akhir nanti.
Genggaman tangan kami kini terasa utuh,Tiada lagi ragu, tiada lagi keluh.Langkah menuju pelaminan tak lagi rapuh,Di atas rida anakku, berkah-Mu kan berlabuh.Terima kasih ya Rabbi atas ketetapan-Mu,Menyatukan hati kami dalam rida-Mu.
(By Vandamme)



