Scroll untuk lanjut membaca
Ragam

CERPEN,SEBUAH CINCIN KINI SIAP MELINGKAR,MENGIKAT JANJI SUCI UNTUK MELANGKAH KE PELAMINAN

0
×

CERPEN,SEBUAH CINCIN KINI SIAP MELINGKAR,MENGIKAT JANJI SUCI UNTUK MELANGKAH KE PELAMINAN

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COMKARAWANG 05 JUNI 2026

Dingin pegunungan selalu punya cara untuk memanggil kembali ingatan yang mati. Bagi Taufik, kabut tebal yang turun setiap sore di lereng gunung ini adalah mesin waktu.Sudah tiga tahun berlalu sejak Salmi berjalan menjauh menyusuri jalan setapak berbatu itu, meninggalkan Fajar bersama sunyi dan deru angin yang menusuk tulang.

Perpisahan tiga tahun lalu karena ego masa muda menorehkan luka sedalam jurang di bawah sana. Namun, di tempat yang sama ini pula, Taufik selalu menitipkan satu doa pada angin malam, Salmi, kembalilah.

Selama tiga tahun, Taufik hidup dalam jeda. Ia melewati barisan pohon pinus yang membisu, menatap pucuk-pucuknya yang bergetar seolah ikut merasakan kegetiran hatinya.

Di tengah keputusasaan, ia menolak untuk mencari pengganti. Baginya, separuh jiwanya tertinggal pada senyum Salmi. Yang tersisa hanyalah harapan yang terus dirawat di tengah dinginnya gunung, berharap suatu saat pintu hati wanita itu kembali terbuka.

Tahun keempat pun tiba, membawa kejutan yang tak pernah diduga. Sore itu, saat kabut mulai turun perlahan mendekap lereng, sebuah bayangan muncul dari balik celah rindu di jalan setapak. Langkah kaki itu terdengar familier.

Taufik menoleh, dan jantungnya seakan berhenti berdetak. Di sana, berdiri Salmi dengan jaket tebalnya, menatap Taufik dengan mata yang berkaca-kaca.

Tidak ada kata-kata makian atas masa lalu, tidak ada juga tuntutan. Hanya ada dua pasang mata yang saling mengunci, menyadari bahwa waktu tidak pernah benar-benar menghapus perasaan mereka.

Ketika mereka berpelukan, dinginnya angin gunung mendadak lebur menjadi kehangatan yang meneduhkan jiwa. Semesta akhirnya mengizinkan mereka merajut kembali kisah yang sempat robek.

Kini, di tahun keempat ini, penantian panjang itu menemui dermaga terakhirnya. Mereka tidak lagi berbicara tentang masa lalu yang runtuh, melainkan tentang masa depan yang siap dibangun.

Di hadapan gunung yang menjulang tinggi, Taufik dan Salmi sepakat untuk tidak saling melepaskan lagi. Sebuah cincin kini siap melingkar, mengikat janji suci untuk melangkah ke pelaminan.
Gunung yang dulu menjadi saksi kesendirian, kini bersiap menjadi saksi penyatuan dua hati dalam ikatan pernikahan.

(By Vandamme)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *