NURJATINEWS.COM – KARAWANG 05 MEI 2026
Deru mesin angkot jurusan Terminal Cikampek – Karawang itu menderu di bawah terik matahari siang, Di balik kemudi,Taufik menyeka keringat di dahinya dengan handuk kecil yang melingkar di leher.
Tangannya yang kasar dengan cekatan memindahkan gigi, sementara matanya tetap fokus menatap jalanan berdebu. Di laci dasbor angkotnya, sebuah cincin emas sederhana tersimpan rapi di dalam kotak beludru merah.
Cincin itu dibelinya dari hasil menyisihkan uang receh selama lima tahun terakhir.Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk ukuran cinta yang terus diuji oleh pandangan mata orang-orang.
Taufik hanyalah seorang sopir angkot dengan penghasilan yang tidak menentu. Sementara kekasihnya,Rodiah adalah seorang guru PNS di sebuah Sekolah Dasar negeri yang anggun, berpendidikan, dan selalu rapi dengan seragam dinasnya.
Taufik masih ingat betul bagaimana tiga tahun pertama hubungan mereka berjalan. Setiap pukul tiga sore,Taufik selalu memastikan angkotnya sudah terparkir di seberang gerbang SD tempat Rodiah mengajar.
Ketika bel pulang berbunyi,Rodiah akan berjalan anggun keluar gerbang, mengabaikan bisikan-bisikan miring dari rekan sesama guru yang heran mengapa seorang guru mau naik ke kursi depan sebuah angkot berwarna biru yang sudah tua.
Di dalam angkot itulah, di sela-sela aroma bensin dan suara musik radio yang renyah, mereka merajut mimpi.Rodiah sering bercerita tentang kepolosan murid-muridnya yang baru belajar membaca, sementara Taufik membalasnya dengan cerita-cerita lucu tentang para penumpang yang menawar ongkos.
Rodiah tidak pernah malu dengan jemari Taufik yang hitam karena oli. Baginya, jemari kasar itulah yang bekerja keras dengan cara yang halal.Namun, memasuki tahun keempat dan kelima, ujian sesungguhnya datang.
Restu dari keluarga Rodiah sempat menjadi tembok besar yang menghadang.Rodiah itu guru,Taufik Masa depannya suram. Kamu mau kasih makan apa dia nanti kalau cuma mengandalkan setoran angkot.
Kalimat dari ayah Rodiah malam itu sempat membuat Taufik nyaris mundur,Tetapi Rodiah tidak melepaskan genggamannya. Kita buktikan sama-sama, Mas, Aku tidak butuh kemewahan, aku butuh laki-laki yang bertanggung jawab dan mau berjuang.
Bisik Rodiah menguatkan saat mereka duduk berdua di jok depan angkot, kala hujan deras mengguyur kota.Kata-kata itu menjadi bensin pembakar semangat Taufik. Sejak hari itu,Taufik bekerja dua kali lebih keras.
Pagi hari dia menarik angkot, malamnya dia membantu kerabatnya mengelola usaha agen sembako.Dia menabung setiap rupiah dengan ketat demi membuktikan bahwa seorang sopir angkot pun bisa bertanggung jawab.
Hingga akhirnya, di tahun kelima, ketulusan dan kerja keras Taufik melunuhkan hati orang tua Rodiah.Hari yang dinanti itu pun tiba,Hari Sabtu yang cerah, angkot warna biru milik Taufik tidak beroperasi.
Angkot itu diparkir di depan halaman rumah dengan hiasan pita warna-warni di spionnya. Hari itu,Taufik tidak memakai kaos oblong dan handuk kecil.
Dia berdiri gagah mengenakan setelan jas hitam dengan rambut yang tertata rapi.Di atas pelaminan,Rodiah tampil sangat cantik dengan kebaya putihnya. Air mata haru menetes di pipi Arini saat Taufik mengucapkan ijab kabul dengan satu tarikan napas yang mantap.
Mahar sederhana dari hasil keringat halal Taufik selama lima tahun kini resmi melingkar di jari manis Rodiah.Ketika sesi foto bersama, suasana menjadi sangat meriah. Teman-teman sesama sopir angkot Taufik datang beramai-ramai dengan seragam batik mereka, memberikan klakson bersahut-sahutan di depan gedung.
Tidak ketinggalan, murid-murid SD tempat Rodiah mengajar juga datang membawa bunga mawar merah kecil untuk “Ibu Guru” kesayangan mereka.Di pelaminan,Taufik menggenggam erat tangan Rodiah yang beraroma wangi, sangat kontras dengan tangannya sendiri.
Terima kasih sudah mau bertahan di jok depan angkotku selama lima tahun ini Sayang,bisik Taufik lirih,Rodiah tersenyum manis, menyandarkan kepalanya di bahu Taufik,Rute panjangnya sudah selesai, Mas. Sekarang, mari kita mulai rute baru kehidupan kita berdua.”
(By Vandamme)



