NURJATINEWS.COM – KARAWANG 05 JUNI 2026
Malam itu, jam dinding tua di ruang tamu berdentang tujuh kali. Bagi Sarah, angka tujuh seolah menjadi kutukan sekaligus berkah yang menguji batas sabar di dadanya. Tujuh tahun yang lalu, saat kandungannya menginjak usia tujuh bulan, Jajang,suaminya,pamit pergi ke kota seberang.
Untuk urusan pekerjaan yang katanya hanya memakan waktu beberapa minggu.Namun, minggu berubah menjadi bulan, dan bulan melompat menjadi tahun.Jajang tidak pernah kembali.Mawar masih ingat betul bagaimana rasanya bertaruh nyawa di ruang bersalin tujuh tahun silam.
Ketika rasa mulas yang hebat mencabik tubuhnya, jemarinya hanya mampu mencengkeram pinggiran ranjang rumah sakit yang dingin. Di saat para ibu lain digenggam tangannya oleh sang suami,Mawar hanya ditemani bayang-bayang ketakutan.Ketika suara tangis bayi laki-lakinya pecah membelah sunyi,.
Tdak ada kecupan hangat di keningnya.Jajang menghilang bagai ditelan bumi tepat di hari anaknya lahir ke dunia.Anak itu diberi nama Arka, yang berarti cahaya matahari,Kini, Arka telah tumbuh menjadi bocah laki-laki berusia tujuh tahun yang cerdas dan tampan.
Wajahnya adalah cetakan sempurna dari Jajang,alisnya yang tebal dan sorot matanya yang tajam selalu mengingatkan Sarah pada pria yang telah menelantarkannya.Ibu, kenapa Ayah belum pulang dari kerja?” tanya Arka sore itu, sambil menyusun balok mainan di lantai tanah rumah mereka.
Pertanyaan yang sama, yang selalu menghujam jantung Mawar selama bertahun-tahun.Mawar menarik napas dalam, mencoba menahan air mata agar tidak jatuh di depan putranya. Ia berlutut, mengusap rambut Arka dengan penuh kasih. “Ayah sedang berjuang di tempat yang jauh, Sayang.
Arka harus jadi anak yang hebat ya, supaya kalau Ayah melihat Arka, Ayah bangga.”Sambil memeluk Arka, tatapan Mawar menerawang keluar jendela, menembus rona merah senja.Tujuh tahun menanti dalam ketidakpastian telah mengubah rasa sakitnya menjadi dinding keteguhan yang kokoh.
Mawar tidak tahu apakah Jajang masih hidup, telah melupakan janji sucinya, atau sengaja membuang mereka.Namun satu hal yang pasti, Sarah tidak lagi menangisi pintu yang tertutup. Ia memilih membuka jendela baru demi masa depan Arka, berjalan tegak walau tanpa tiang penyangga.
( By Vandamme),



