Scroll untuk lanjut membaca
Ragam

CERPEN,RIAN MEMEJAMKAN MATA,MEMBAWA PENYESALAN ABADI SAMPAI KE LIANG LAHAT.

0
×

CERPEN,RIAN MEMEJAMKAN MATA,MEMBAWA PENYESALAN ABADI SAMPAI KE LIANG LAHAT.

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COMKARAWANG 19 JUNI 2026

Rumah bercat putih itu kini terasa seperti kuburan yang megah. Bagi kepergian yang dipaksakan oleh ego, sunyi adalah hukuman paling kejam.Rian duduk di sudut ruang tamu yang berdebu.

Tiga tahun lalu, ruangan ini selalu wangi aroma teh melati dan dipenuhi senyum tulus dari istrinya, Sarah. Namun, selama tiga tahun pernikahan itu pula, Rian memilih buta dan tuli.

Ia mengukir luka demi luka di hati Sarah. Kata-kata kasar, pengabaian, hingga pengkhianatan menjadi makanan sehari-hari yang harus Sarah telan dalam diam.

Sarah selalu bertahan dengan air mata yang disembunyikan di balik mukenanya, hingga akhirnya, batas sabar itu habis. Sarah pergi tanpa sepatah kata pun, membawa sisa martabatnya yang telah hancur.

Saat Sarah pergi, Rian merasa menang. Ego lelakinya merasa bebas. Namun, karma tidak pernah datang terlambat; ia hanya menunggu waktu yang tepat.Hanya butuh waktu singkat bagi dunia untuk berputar menjatuhkan Rian.

Setahun setelah kepergian Sarah, kesombongan Rian runtuh. Karirnya hancur, teman-teman foya-foyanya menjauh, dan sepi mulai menggerogoti jiwanya. Setiap sudut rumah mengingatkannya pada Sarah.

Puing-puing penyesalan mulai menumpuk di dadanya, menyisakan sesal yang teramat dalam.Hukuman sesungguhnya datang dua tahun kemudian.

Rian didiagnosis mengidap penyakit berat yang perlahan menggerogoti fungsi tubuhnya. Di atas ranjang rumah sakit yang dingin, Rian lumpuh tak berdaya. Tidak ada lagi sosok tangguh yang dulu selalu memijat kakinya saat lelah.

Tidak ada jemari lembut Sarah yang menyuapinya bubur dengan sabar.”Sarah… maafkan aku…” bisik Rian lirih ke udara kosong, air matanya menetes membasahi bantal.

Nafasnya kian sesak, seolah dada dihimpit dosa-dosa tiga tahun silam yang menggunung.Di hari terakhirnya, saat senja mulai tenggelam, Rian menatap langit-langit kamar rumah sakit.

Ia tahu waktunya sudah habis. Karma telah menunaikan tugasnya dengan sangat patuh. Dengan sisa nafas terakhir,Rian memejamkan mata, membawa penyesalan abadi itu hingga ke liang lahat.

Sang suami telah pergi, menyatu dengan tanah, meninggalkan kisah tentang hati yang terlambat menghargai sebuah ketulusan.

(By Vandamme)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *