NURJATINEWS.COM – KARAWANG 19 JUNI 2026
Udara sore di lereng Gunung Sangga Buana Karawang terasa menusuk tulang. Dari balik jendela rumah kayu mereka, kabut tebal perlahan turun menyelimuti hutan yang lebat dan rimbun. Di dalam kamar yang hangat,Kang Angling terbaring lemah.
Tubuhnya yang dulu tegap kini kurus kering digerogoti penyakit misterius yang membuatnya tak berdaya selama berbulan-bulan.Di samping ranjang, Salmi, istrinya, dengan telaten menyeka kening Kang Angling dengan air hangat.
Senyum tulus tidak pernah lepas dari wajah wanita itu.”Minum obatnya dulu ya,Kang. Biar cepat sembuh,” bisik Salmi lembut, penuh kasih sayang.Setiap kata lembut yang keluar dari mulut Salmi justru terasa seperti sembilu yang menyayat jantung Kang Angling.
Rasa bersalah yang teramat sangat berkecamuk di dalam dadanya.Di balik statusnya sebagai suami yang tampak setia di rumah ini,Kang Angling menyimpan rahasia kelam yang sangat busuk.
Selama empat tahun lamanya,Kang Angling menjalani kehidupan ganda. Setiap kali berpamitan untuk urusan bisnis ke kota, ia sebenarnya menemui beberapa wanita nakal yang ia pikat dengan materi.
Di balik dinding-dinding hotel dan apartemen rahasia,Kang Angling menenggelamkan diri dalam maksiat dan hubungan terlarang. Ia terlena oleh manisnya dosa, mengira semuanya akan aman.
karena Salmi begitu memercayainya tanpa pernah menaruh curiga sedikit pun.Namun, dua tahun lalu, badai kehidupan mulai datang. Satu per satu wanita selingkuhannya pergi menjauh saat bisnis Kang Angling perlahan bangkrut.
Tak berselang lama, kesehatan Kang Angling ambruk total. Dokter pun kesulitan mendiagnosis penyakitnya yang kian hari kian parah.
Kini, di atas ranjang pesakitan,Kang Angling tahu ini adalah karma nyata dari Tuhan karena telah mengkhianati kesetiaan istrinya. Wanita-wanita pemuas nafsu yang dulu dipujanya tak satu pun yang peduli.
Justru Salmi, wanita yang hak-haknya telah ia injak-injak selama bertahun-tahun, yang tetap berdiri kokoh merawatnya tanpa mengeluh.Air mata Kang Angling menetes perlahan, membasahi bantalnya.
Ia menangisi tubuhnya yang ringkih, namun yang lebih hancur adalah jiwanya. Menatap wajah suci Salmi yang sedang merapikan selimutnya, batin Kang Angling menjerit kesakitan.
Kebebalan masa lalunya kini harus dibayar mahal dengan siksaan batin yang tiada akhir, meratapi dosa yang terlanjur membeku di ujung usianya.
(By Vandamme)



