NURJATINEWS.COM – KARAWANG 14 JUNI 2026
Bagi penduduk Kampung Sukamaju, nama H Ganda adalah sinonim dari payung di kala hujan. Selama dua puluh tahun terakhir, lelaki paruh baya berwajah teduh itu tidak pernah absen mengulurkan tangan. Setiap subuh, sebelum matahari sempat menyeka embun dari pucuk daun, H Ganda sudah sibuk memilah sembako di teras rumahnya yang sederhana.
Ia bukan orang kaya. Pendapatannya dari toko kelontong kecil dan sepetak sawah warisan sebenarnya hanya pas-pasan. Namun, prinsip hidupnya kokoh: “Harta kita yang sesungguhnya adalah apa yang kita berikan kepada orang lain.
“Selama dua dekade,H Ganda menjadi jembatan bagi mereka yang hampir putus asa. Ia membayar biaya sekolah anak yatim yang nyaris putus sekolah, menebus obat warga miskin yang terbaring sakit, hingga membagikan beras saat paceklik melanda.
Tanpa pamrih, tanpa pernah meminta sanjungan. Garis-garis keriput di wajahnya adalah saksi bisu dari jutaan langkah yang ia tempuh demi menghapus air mata sesama. Banyak orang mengira H Ganda akan hidup pas-pasan selamanya karena terus “membuang” uangnya.
Namun, rahasia langit bekerja dengan cara yang ajaib.Sepuluh tahun pun berlalu. Tiga puluh tahun sudah total waktu yang didedikasikan H Ganda untuk kemanusiaan. Di usianya yang kini menginjak kepala enam, sebuah keajaiban besar terjadi dalam hidupnya.
Janji Tuhan tentang keberkahan terwujud nyata.Toko kelontong kecilnya dahulu, entah bagaimana, berkembang pesat menjadi jaringan grosir terbesar di kabupaten. Sawah sepetak yang dulu sering dilanda kering, kini menjelma menjadi lumbung padi organik yang subur dan mengirimkan hasilnya ke berbagai daerah.
Harta H Ganda berlimpah ruah, mengalir deras bagaikan mata air yang tidak pernah kering.Meski gudang uangnya kini penuh dan namanya dihormati di mana-mana, ada satu hal yang tidak pernah berubah dari H Ganda jiwanya tetap membumi.
Ia tidak membeli mobil mewah untuk pamer atau membangun pagar rumah yang tinggi menjulang. Pakaiannya tetap bersahaja.Bagi H Ganda, limpahan harta di tahun ke-30 ini bukanlah hadiah untuk dinikmati sendiri, melainkan titipan langit yang skalanya diperbesar.
Dengan kekayaan yang melimpah, ia kini membangun yayasan gratis, mendirikan rumah sakit tanpa biaya untuk warga kurang mampu, dan membuka puluhan lapangan kerja.Suatu sore, seorang pemuda bertanya kepadanya,H Ganda Anda dulu memberikan segalanya hingga hampir tidak tersisa.
Mengapa sekarang Anda justru menjadi orang paling kaya di kota ini?”H Ganda tersenyum teduh, menatap hamparan sawahnya yang menguning penuh berkah. “Sederhana, Nak. Dulu saya hanya menanam benih kecil dengan ketulusan.
Saya tidak pernah menduga bahwa sepuluh tahun kemudian, Tuhan memutuskan untuk mengirimkan panen raya yang luar biasa ini. Berbagi tidak pernah membuat kita miskin, ia hanya memindahkan harta kita ke rekening langit.
Di sore yang hangat itu, doa-doa dari ribuan orang yang pernah ditolongnya kembali mengangkasa, membungkus kehidupan H Ganda dalam ketenangan dan keberkahan yang abadi.
(By Vandamme)



