NURJATINEWS.COM – KARAWANG 14 JUNI 2026
Angin musim dingin Hong Kong menusuk hingga ke tulang, tetapi rasa dingin itu kalah telak oleh rasa beku di dalam dada Minah. Hari itu hari Minggu,Seperti biasa, Victoria Park dipadati oleh ribuan Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang mencari hiburan di hari libur.
Namun, Minah hanya duduk termenung di sudut taman, meremas telepon genggamnya dengan tangan gemetar.Dua tahun sudah Minah memeras keringat di kota beton ini.
Tugasnya merawat seorang lansia yang cerewet dan membersihkan apartemen sempit demi mengirimkan pundi-pundi rupiah ke kampung halaman. Semua itu ia lakukan demi masa depan yang mereka rancang bersama,memugar rumah, modal usaha, dan biaya sekolah anak semata wayang mereka.
Namun, panggilan telepon dari seorang tetangga dekat setengah jam lalu menghancurkan seluruh dunianya.Minah,kamu harus kuat,Sandy dia membawa perempuan lain ke rumahmu.
Sudah hampir setahun ini mereka tinggal bersama di sasan, Kalimat itu terngiang-ngiang seperti kaset rusak. Minah merasa seluruh pengorbanannya menahan rindu, menelan makian majikan, dan menghemat uang jajan,tidak ada artinya lagi.
Di atas ranjang yang ia beli dengan uang kiriman pertamanya, sang suami justru bermain api dengan perempuan lain.Minah tidak menangis histeris. Air matanya mengering bersama rasa hormat yang runtuh seketika.
Di sudut Causeway Bay sore itu, ia mengambil satu keputusan besar,ia akan pulang, bukan untuk memaafkan, melainkan untuk menjemput kemerdekaannya.Langkah Tegas di Terminal KedatanganTiga bulan setelah kabar pahit itu, kontrak kerja Minah selesai.
Ia menolak memperpanjangnya,Dengan koper besar dan tas ransel berisi sisa jerih payahnya.Minah melangkah keluar dari Terminal Kedatangan Bandara Soekarno-Hatta,Tidak ada debar rindu yang manis.
Yang ada hanyalah ketetapan hati yang mengeras bak baja.Sepanjang perjalanan pulang ke Karawang Minah menatap keluar jendela mobil travel.Ia mengingat kembali setiap senyum palsu Sandy saat meminta kiriman uang bulanan.
Untuk renovasi dapur, Sayang,” atau “Untuk beli keperluan motor,” begitu alasan Sandy kala itu. Membiayai rumahnya yang baru dicat rapi,hasil keringat Minah sendiri.Akhir dari Sebuah Pengkhianatan,Sandy keluar dari rumah dengan wajah terkejut sekaligus gugup.
Ia mencoba tersenyum dan merentangkan tangan untuk menyambut istrinya, Minah bergeming. Ia tidak membalas pelukan itu, bahkan tidak menyodorkan tangan untuk disalim.
Minah, kamu sudah pulang? Kok tidak berkabar?” tanya Sandy dengan suara bergetar, matanya melirik cemas ke dalam rumah.Minah tidak membuang waktu. Dari dalam tas jinjingnya, ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal yang sudah ia persiapkan sejak mendarat di Indonesia.
Ia meletakkan amplop itu dengan kasar di atas meja teras.”Apa ini?”Sandy membuka amplop tersebut,Wajahnya langsung pucat pasi saat membaca lembaran di dalamnya. Sebuah surat gugatan cerai resmi.
Minah… tolong dengarkan penjelasan aku dulu. Itu semua salah paham,” cetus Sandy panik, mencoba meraih tangan Minah.Minah menarik tangannya dengan cepat.
Tatapannya tajam, tanpa ada sisa keraguan.”Dua tahun aku menahan dingin dan sepi di Hong Kong, Sandy.Aku bekerja belasan jam sehari supaya rumah ini tegak berdiri.
Tapi kamu justru menghancurkan atapnya dengan membawa perempuan lain ke sini,” ucap Minah, suaranya tenang namun sarat penekanan.”Aku pulang bukan untuk kembali padamu. Aku pulang untuk mengambil kembali harga diriku.
Sampai jumpa di Pengadilan Agama.”Minah membalikkan badan, memanggil kembali sopir travel yang sengaja ia minta menunggu untuk mengantarnya ke rumah orang tuanya. Ia melangkah pergi dengan kepala tegak.
Di belakangnya, Sandy hanya bisa terpaku meratapi kehancuran yang ia ciptakan sendiri.Bagi Minah, ini bukanlah akhir yang menyedihkan, melainkan babak pertama dari kebebasan hidupnya yang baru.
(By Vandamme)



