Scroll untuk lanjut membaca
Ragam

CERPEN,TIDAK ADA LAGI KETAKUTAN DISANA,TRAUMA MASA LALU TELAH LARUT DITELAN SAMUDRA.

16
×

CERPEN,TIDAK ADA LAGI KETAKUTAN DISANA,TRAUMA MASA LALU TELAH LARUT DITELAN SAMUDRA.

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COMKARAWANG 14 JUNI 2026

Perahu kayu itu hancur menjadi serpihan di tepi pantai. Ombak besar malam itu tidak hanya meremukkan lambung kapal, tetapi juga menghancurkan impian yang telah dibangun bertahun-tahun.

Jajat menatap puing-puing itu dengan tatapan kosong.Di sebelahnya,Aminahterduduk di atas pasir basah. Air matanya luruh, menyatu dengan buih air laut.

Haruskah kita menyerah?” bisik Aminah,suaranya parau menahan perih.Jajat berlutut di samping Aminah. Ia menggenggam jemari perempuan itu.

Di antara rasa sakit yang hebat,Jajat merasakan sesuatu yang belum padam. Sisa-sisa cinta, kepercayaan, dan ketulusan masih berdenyut di antara mereka.

Kehilangan kapal bukan berarti mereka kehilangan arah.”Tidak,” jawab Jajat mantap. “Kita kumpulkan lagi kayunya. Satu demi satu.”

Hari-hari berikutnya berubah menjadi perjuangan yang melelahkan.Di bawah terik matahari, mereka mengumpulkan serpihan papan yang basah dan terdampar.

Tangan mereka terluka karena serutan kayu, namun mereka menolak berhenti.Jajat memaku kembali lambung kapal dengan untaian doa, sementara Aminah dengan sabar menjahit layar yang robek menggunakan benang kesetiaan.

Mereka tidak lagi membicarakan badai yang telah lalu, melainkan fokus pada setiap pasak yang menguatkan bahtera baru mereka.Bulan berganti bulan, perahu itu akhirnya kembali berdiri.

Jauh lebih kokoh dari sebelumnya. Guratan-guratan kayu yang retak justru menjadi saksi bisu bahwa mereka pernah diuji dan berhasil bertahan.Pagi itu, laut begitu tenang. Warna biru langit terpantul sempurna di permukaan air tanpa riak yang menakutkan.

Jajat dan Aminah berdiri di atas dek perahu mereka yang baru. Saat layar terkembang ditiup angin sepoi-sepoi,Jajat menatap mata Aminah.Tidak ada lagi ketakutan di sana,Trauma masa lalu telah larut ditelan samudra.

Di tengah lautan luas yang penuh ketidakpastian,Jajat tahu ia tidak akan pernah tersesat lagi.Aminah bukan hanya sekadar penumpang, melainkan kompas dan pelabuhan terakhirnya.

Perjalanan panjang mereka membuktikan satu hal,badai tidak datang untuk menenggelamkan, melainkan untuk menunjukkan siapa pendamping setia yang bersedia berdarah-darah untuk tetap tinggal.

(By Vandamme)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *