Scroll untuk lanjut membaca
Ragam

CERPEN,SANG SINGA BETINA BISA TERSENYUM LEPAS,MENATAP LANGIT SORE YANG TERANG BENDERANG.

16
×

CERPEN,SANG SINGA BETINA BISA TERSENYUM LEPAS,MENATAP LANGIT SORE YANG TERANG BENDERANG.

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COMKARAWANG 14 JUNI 2026

Lampu neon di sudut gang pelacuran itu selalu berkedip genit setiap kali malam datang.Bagi orang lain, ketukan sepatu hak tinggi dan gincu merah menyala adalah simbol kemaksiatan.

Namun bagi Ayu, itu adalah satu-satunya senjata untuk bertahan hidup. Dunia menjulukinya sampah masyarakat, seorang Wanita Tuna Susila (WTS).

Namun di dalam bilik kontrakan sempitnya, ia adalah seorang ibu, singa betina yang rela tercabik badai demi dua malaikat kecilnya, Doni dan Dina.

Setiap malam, sebelum mengunci pintu dari luar untuk menjajakan raga, Ayu selalu mencium kening kedua anaknya yang tertidur pulas di atas kasur lantai yang tipis.

Di dalam kamar mandi umum yang pengap, ia sering menangis dalam diam, membasuh sisa air mata dan hinaan yang menempel di tubuhnya.

Maafkan Ibu, Nak. Tubuh ini boleh dikutuk dunia, asal perut kalian tidak kosong dan sekolah kalian tidak putus,” bisiknya sabar pada sepi.Tahun-tahun penuh air mata itu berlalu bagai tetesan darah,Ayu menelan semua cacian kota bulat-bulat.

Setiap lembar uang yang ia dapatkan dari malam yang kelam, langsung ia ubah menjadi biaya buku, seragam sekolah, dan susu. Doni dan Dina tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas. Mereka tahu ibunya bekerja malam, tetapi mereka tidak pernah menghakimi.

Kasih sayang Ayu yang tulus jauh lebih besar daripada pekatnya malam tempatnya mencari nafkah.
Hingga akhirnya, hari yang dinanti itu tiba.

Di bawah terik matahari halaman sekolah, Doni dan Dina berdiri dengan toga dan ijazah Sekolah Menengah Atas di tangan mereka. Saat nama keduanya disebut sebagai lulusan terbaik, Ayu yang berdiri di barisan belakang menangis sesenggukan.

Gincu merahnya sudah lama luntur, berganti wajah lelah yang menyimpan kebanggaan luar biasa. Tugas pertamanya selesai, ia berhasil mengantar anaknya lulus sekolah.Sepuluh tahun kemudian, roda nasib benar-benar berputar.

Doni kini telah menjadi seorang manajer di sebuah perusahaan besar, sementara Dina sukses membangun usahanya sendiri. Malam-malam kelam di gang remang-remang itu telah lama runtuh dan ditinggalkan.

Sore itu, udara terasa sejuk di sebuah rumah baru yang asri, Ayu, yang rambutnya kini mulai memutih dan tangannya mulai gemetar dimakan usia, duduk di kursi goyang di beranda rumah. Doni datang mendekat, lalu berlutut di depan ibunya, meletakkan kepalanya di pangkuan wanita yang dulu menyerahkan seluruh harga dirinya demi masa depan mereka.

Ibu, istirahatlah,” bisik Doni lembut sambil menggenggam tangan Ayu yang kasar. “Malam-malam dingin itu sudah selesai. Biar kami yang sekarang memeluk dan menjaga Ibu.”Dina keluar dari dalam rumah membawa secangkir teh hangat, lalu memeluk ibunya dari belakang.

Bagi kami, Ibu adalah pahlawan paling suci. Apapun kata dunia dulu, tanpa pengorbanan Ibu, kami tidak akan pernah menjadi apa-apa hari ini.

Ayu memejamkan mata, membiarkan air mata bahagianya mengalir. Seluruh noda hitam dan luka masa lalu seolah basah dan sirna seketika oleh pelukan tulus anak-anaknya.
Di beranda yang tenang itu, sang singa betina akhirnya bisa tersenyum lepas, menatap langit sore yang terang benderang.

(By Vandamme)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *