NURJATINEWS.COM – KARAWANG 01 JUNI 2026
Setiap kali Rodiah menatap mata Jajat, ia tidak hanya melihat seorang pria. Ia melihat seluruh luka, ketakutan, dan potensi tertinggi dari dirinya sendiri terpantul di sana.
Pertemuan mereka setahun lalu seperti ledakan kosmik yang membangunkan jiwa. Namun, intensitas itu pula yang kini membuat mereka hancur perlahan.
Mereka adalah sepasang twin flame, dua jiwa dalam satu denyut yang terjebak dalam siklus tarik-ulur yang melelahkan.Hari itu, di kedai kopi yang sepi, siklus itu kembali berulang.
Aku tidak bisa melakukan ini lagi, Rodiah, bisik Jajat, matanya enggan menatap Rodiah. Ada ketakutan besar di balik suaranya.Jajat adalah the runner,si pelari.
Setiap kali keintiman jiwa mereka menguat, ego dan ketakutannya bangkit. Baginya, melihat Rodiah sama dengan dipaksa berkaca pada trauma masa lalunya.
Jadi, dia memilih mundur.Dia membangun dinding tinggi dan berlari bersembunyi.Rodiah merasakan dadanya sesak,Sebagai the chaser,si pengejar insting pertamanya adalah menggenggam lebih erat.
Jajat,tolong jangan pergi lagi,Kita bisa menghadapi ini bersama,Mengapa kau selalu berlari saat kita mulai dekat.Jajat menggeleng, beranjak dari kursi, dan melangkah keluar pintu.
Rodiah tersengal, Langkahnya otomatis mengikuti, mengejar bayang Jajat di bawah gerimis kota.Ini adalah permainan melelahkan yang tidak ada pemenangnya.
Semakin Jajat menjauh,tali tak kasat mata di antara mereka justru semakin menjerat kuat, membuat napas keduanya sama-sama berat. Rodiah lelah menjadi pemburu bayang-bayang, dan dia tahu Geri pun letih berlari dari takdir.
Tepat di ujung jalan,Rodiah menghentikan langkahnya, Kakinya gemetar, energinya terkuras habis hingga ke dasar batin. Ia menatap punggung Jajat yang kian menjauh dan menyadari satu hal, mengejar Geri hanya akan membuat pria itu berlari lebih jauh.
Di bawah rintik hujan,Rodiah melepaskan genggaman imajinernya.Ia memilih berhenti. Bukan karena berhenti mencintai, melainkan karena ia sadar bahwa ini adalah dua jiwa yang belum siap saling menerima.
Mereka harus menyembuhkan ego masing-masing secara terpisah,Sambil membalikkan badan,Rodiah berbisik pada semesta, membiarkan takdir mengambil alih roda perjalanan mereka menuju fase penyerahan diri yang damai.
(By Vandamme)



