NURJATINEWS.COM – KARAWANG 01 JUNI 2026
Empat tahun bukan waktu yang sebentar untuk menghitung sepi,Bagi Rodiah, setiap detak jam dinding di ruang tamunya terdengar seperti ejekan. Empat tahun lalu, suaminya, taufik, pamit pergi merantau,Sejak hari itu, kabar dari Taufik menguap bersama angin.
Tidak ada telepon, tidak ada kiriman uang, dan tidak ada kepastian.Rodiah ditinggalkan dalam status yang menggantung, seorang istri yang tidak dinafkahi, namun terikat sumpah pernikahan.
Rasa sepi dan beban hidup yang dipikul sendiri perlahan mengikis pertahanan Rodiah. Hingga akhirnya, hadirnya sosok Hamid membawa sedikit kehangatan di tengah badai keputusasaan.
Hamid adalah pria santun yang siap menerima Rodiah apa adanya. Sadar bahwa status hukumnya dengan Taufik belum jelas dan proses perceraian memakan waktu serta biaya, Rodiah mengambil keputusan nekat.
Ia dan Hamid menikah siri,Langkah itu diambil bukan karena ia ingin mengkhianati masa lalu, melainkan karena ia lelah berjuang sendirian di dunia yang keras ini.Dua tahun pun berlalu dalam ikatan rahasia itu. Pernikahan siri dengan Hamid berjalan harmonis, namun hati Rodiah tidak pernah benar-benar tenang.
Ia merasa hidup dalam bayang-bayang kelabu. Status hukumnya yang masih menjadi istri sah Taufik di mata negara, sementara secara agama ia telah membina rumah tangga baru, terus menghantuinya.Rodiah tahu, ia tidak bisa selamanya bersembunyi di balik pernikahan siri. Ia butuh ketegasan.
Hari itu, tepat enam tahun sejak kepergian Taufik, Rodiah memantapkan hati. Didampingi Hamid yang menggenggam erat tangannya untuk memberi kekuatan, Rodiah melangkah masuk ke selasar Pengadilan Agama.
Ia membawa map berisi berkas-berkas gugatan cerai.Saat namanya dipanggil oleh petugas pengadilan, dada Rodiah berdegup kencang. Di hadapan majelis hakim, ia membeberkan semua kenyataan pahit tentang penantiannya yang sia-sia.
Tidak ada air mata amarah yang tumpah, yang ada hanyalah ketegasan seorang wanita yang ingin membebaskan dirinya dari belenggu masa lalu.Gugatan cerai gaib diajukan karena keberadaan Taufik yang sudah tidak diketahui lagi.
Ketika palu hakim akhirnya diketuk, suaranya menggema di ruang sidang, sekaligus meruntuhkan dinding keraguan yang selama ini menghimpit dada Rodiah. Ketukan palu itu menjadi akhir resmi dari kisah masa lalunya yang mati suri.
Keluar dari gedung Pengadilan Agama, Rodiah menghirup udara segar dengan lapang. Langkah kakinya kini terasa ringan, siap menyongsong masa depan yang sah dan jelas bersama Hamid.
(By Vandamme)



