NURJATINEWS.COM – KARAWANG 15 JULI 2026
Matahari sore merangkak turun, memantulkan bayangan satu pria dan wanita di teras rumah bercat biru pudar.Deni (50), seorang duda dengan kerutan halus di ujung mata dan sisa ketegasan di wajahnya, duduk berhadapan dengan calon mertuanya.
Di dalam, ada Laras (20), gadis yang sejak setahun terakhir diam-diam mengisi ruang di hatinya, tengah menanti dengan dada berdebar.
“Saya tahu umur saya jauh lebih tua dari Laras, bu. Tapi niat saya tulus. Saya ingin memuliakannya,” ucap Deni mantap, sembari menggeser sebuah amplop cokelat tebal berisi jaminan mahar 50 gram logam mulia.
Bagi seorang pedagang kelontong sepertinya, mengumpulkan mahar itu bukanlah hal mudah. Itu adalah keringat dan kerja keras bertahun-tahun yang ia pertaruhkan sebagai bukti keseriusan.
Namun,Bu Jamilah hanya menatap amplop itu sekilas sebelum menghela napas panjang. “Bukan soal maharnya, pa Deni, Laras anak saya satu-satunya.
Masalahnya, saya masih bingung untuk memberikan keputusan.” Pa Deni terdiam. Di balik jendela, Laras menunduk lesu. Bayang-bayang penolakan mulai menghantui pikirannya.
Berita tentang rencana pernikahan mereka memang telah memicu perbincangan hangat di lingkungan kampung.
Banyak yang mendukung karena cinta tak mengenal usia, namun tak sedikit pula yang mencibir dan meragukan masa depan gadis muda yang menikah dengan pria separuh baya.
Tantangan terbesar memang datang dari ibunda Laras. Sebagai seorang ibu, ia dihantui ketakutan dan kekhawatiran. Ia takut putrinya hanya silau oleh materi atau jaminan masa depan, bukan cinta yang murni.
Terlebih lagi, secara psikologis dan sosial, usia 20 tahun adalah fase di mana seorang wanita baru saja memulai pendewasaan diri yang sebenarnya.
Di dalam rumah, Laras mencoba membujuk ibunya sekali lagi. “Bu, Mas Deni orang baik. Usia tidak menjamin kedewasaan seseorang.
Laras merasa nyaman dan yakin dengannya,” bisik Laras dengan suara bergetar, menggenggam tangan ibunya yang kasar.
Sang ibu menatap mata Laras lekat-lekat. Ada genangan air mata di sana. Beliau tidak membenci Pak Deni, hanya saja beliau dilema antara kebahagiaan putrinya dan standar masyarakat tentang pernikahan ideal.
Beliau tahu, menjalani pernikahan dengan rentang usia hingga tiga puluh tahun memiliki tantangan emosional dan penyesuaian budaya yang tidak mudah.
“Ibu hanya ingin yang terbaik untukmu, Nak. Jangan sampai keputusan ini membuatmu menyesal di kemudian hari,” jawab ibunya dengan suara serak.
Hingga malam tiba, secarik kertas persetujuan dari sang ibu belum juga turun. Masih ada keraguan yang menyelimuti restu tersebut. Pak Deni dan Laras kini hanya bisa bersabar, merajut asa dan menanti dengan doa, berharap waktu dan ketulusan cinta mereka mampu meluluhkan kebekuan hati sang ibu.
(By Vandamme)


