NURJATINEWS.COM – KARAWANG 11 JULI 2026
Bagi Sandy, status duda bukan alasan untuk berhenti berharap pada cinta yang baru. Namun, jatuh cinta pada Annisa seorang janda satu anak yang tinggal di ujung perumahan di gang yang sama, adalah ujian kesabaran terbesar dalam hidupnya, mengingat usia nya yang tidak muda lagi.
Annisa terkenal dingin, cuek, pemalu dan seolah telah membangun dinding benteng setinggi langit di sekeliling hatinya setelah perceraian dengan suaminya di masa lalunya.Setiap kali Sandy berpapasan dan melemparkan senyum hangat,Annisa hanya membalas dengan anggukan formal yang kaku, lalu berlalu tanpa sepatah kata pun.
Upaya Sandy untuk mendapatkan cinta Annisa tidak lah semudah membalikan tangan butuh kesabaran dan ketenangan,walau sekadar menyapa lewat pesan singkat selalu berujung pada jawaban satu kata atau bahkan hanya centang biru. Cinta Sandy seperti ombak yang pecah sia-sia menghantam batu karang yang angkuh.
Perempuan seperti Annisa tidak bisa langsung di dekati dengan cara biasa,Sandy mencoba berbicara dengan ibu nya Annisa,untuk menyampaikan cintanya pada Annisa, ibunya Annisa suatu sore saat melihat putrinya melamun di teras.Hatinya dulu pernah patah dan terluka, makanya dia memasang duri, Biar Ibu yang bantu mengetuk pintunya.
Sandy sadar, kekuatannya sendiri tidak akan cukup. Maka, ia menyerahkan perjuangan itu pada ibunya Annisa dengan doa dan ketulusan.Satu tahun penuh kesabaran pun berlalu. Selama itu, Ibunya Annisa perlahan tapi pasti mulai menyampaikan niat Sandy yang harus disampaikan ke Annisa.
Bukan dengan paksaan, melainkan dengan kelembutan seorang ibu.Ibunya Annisa yang penyabar dan sering bergaul dengan tetangga serta menemani Annisa sambil menyampaikan tentang masa depan anak, dan mendengarkan keluh kesahnya tanpa pernah menghakimi.
Hingga pada suatu sore tepat setahun sejak Sandy mulai mengaguminya dan ingin menikahinya,Ibunya nya Annisa duduk bersama Annisa di ruang tamu. Dengan suara lembut, sang ibu menyampaikan maksud tersembunyi yang selama ini dirasakan Sandy yang mencintai Annisa.
Walaupun Annisa pernah gagal itu masa lalunya,namun masa depanya masih panjang untuk kelangsungan hidupnya dan membesarkan anaknya.Sandy tidak mau merenggut ketenangan Annisa,Sandy hanya ingin menemani Annisa yang kesepian yang mendera Annisa dalam hidupnya.
Annisa tertegun,Air matanya menetes pelan,Dinding es yang setahun ini ia jaga dengan ketat, runtuh seketika bukan karena rayuan gombal, melainkan karena ketulusan seorang ibu nya Annisa yang memperjuangkan kebahagiaan anaknya.Annisa melihat ketulusan yang luar biasa dari Sandy yang sudah lama menduda.
Malam harinya,Sandy menerima sebuah pesan singkat dari Annisa Bukan lagi jawaban satu kata yang dingin, melainkan sebuah kalimat yang membuat jantungnya berdegup kencang,mas Sandy besok sore jika ada waktu, datanglah ke rumah,Sandy langsung membalas pesan singkat dengan ucapan kata Ya sayang.
ada yang ingin bicarakan denganmu,Sore itu di bawah langit senja yang hangat, tidak ada lagi tatapan sedingin samudra.Annisa menyambut Sandy dengan senyuman tipis namun tulus. Gunung es itu akhirnya meleleh, menyisakan aliran cinta baru yang siap mereka arungi bersama dari sisa reruntuhan cinta yang tersisa.
(By Vandamme)


