NURJATINEWS.COM – KARAWANG 12 JUNI 2026
Dua tahun lamanya, perkataan orang-orang tentang “cinta itu buta” menjadi kenyataan yang paling indah bagi Danu dan Mawar Sebagai sesama tunanetra sejak lahir, mereka tidak pernah tahu seperti apa bentuk dunia, warna pelangi, atau bahkan rupa wajah satu sama lain.
Danu hanya mengenali Mawar lewat kelembutan suaranya dan aroma melati yang selalu lekat pada tubuhnya. Sebaliknya,Mawarmencintai Danu karena ketulusan perhatian dan kehangatan telapak tangan yang selalu menuntunnya berjalan.
Hubungan yang telah terpelihara selama dua tahun itu akhirnya bermuara di altar pernikahan. Tanpa kemegahan visual, pernikahan mereka berlangsung khidmat, dipenuhi isak tangis haru dari keluarga yang menyaksikan dua hati yang saling melengkapi itu bersatu dalam janji suci.
Bagi Danu dan Mawar, pernikahan bukan tentang dekorasi yang indah, melainkan tentang komitmen untuk saling menjadi tongkat penuntun seumur hidup.Satu tahun setelah pernikahan, keajaiban terbesar dalam hidup mereka lahir ke dunia.
Suara tangis bayi laki-laki yang melengking memecah kesunyian kamar bersalin.Danu dan Mawar resmi menjadi orang tua.Dia sangat halus, Mas,” bisik Mawar dengan air mata berlinang, saat perawat meletakkan bayi mereka di pelukannya.
Danu mendekat, duduk di tepi ranjang, lalu perlahan menggerakkan jemarinya yang gemetar untuk meraba wajah mungil sang anak. Dia menyusuri dahi yang halus, pipi yang tembam, dan hidung kecil yang mungil.
Mereka berdua tidak pernah tahu apakah anak mereka mewarisi mata cokelat Danu atau senyum manis Mawar. Mereka juga tidak peduli apakah anak mereka terlahir dengan penglihatan normal atau sama seperti mereka.
Bagi pasangan ini, setiap sentuhan jemari kecil bayinya yang menggenggam telunjuk mereka adalah bahasa cinta yang jauh lebih terang daripada cahaya matahari mana pun di dunia. Di dalam kegelapan yang mereka jalani, kehadiran sang buah hati telah menjadi lentera abadi yang menyempurnakan hidup mereka.
(By Vandamme)



