Scroll untuk lanjut membaca
Ragam

CERPEN,AKU HARUS MELANGKAH,BUKAN KARENA BENCI, HATIKU BUTUH TEMPAT BERTUMPU.

5
×

CERPEN,AKU HARUS MELANGKAH,BUKAN KARENA BENCI, HATIKU BUTUH TEMPAT BERTUMPU.

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COMKARAWANG 31 MEI 2026

Pada bulan Januari Gerimis tipis di luar jendela seolah enggan berhenti, persis seperti suasana hati Hamid selama empat tahun terakhir. Di atas meja kerjanya, sebuah kalender tua bertanda merah tepat pada tanggal hari ini.

Empat tahun. Sebuah angka yang bukan lagi sekadar penanda waktu, melainkan monumen dari sebuah kehilangan yang tak pernah menemukan jawaban.”Ke mana kamu pergi, Ela?” bisik Hamid lirih, menatap cangkir kopi yang mengepulkan uap tipis.

Setahun pertama adalah fase terberat dalam hidup Hamid,Ela dari Karawang kekasihnya, mendadak hilang bak ditelan bumi tanpa sepatah kata pun. Setiap malam, Hamid terjebak di sudut kamar, merajut hampa dan memeluk rindu yang membeku.

Ia mendatangi stasiun, menyisir jalanan kota, hingga mengetuk pintu rumah kerabat Ela. Hasilnya nihil. Aroma parfum Ela yang tertinggal di jaketnya perlahan pudar, menyisakan sunyi yang menyiksa rasa.

Saat itu,Hamid berjanji pada diri sendiri untuk tetap setia menanti di ambang pintu, berharap Ela kembali membawa senyuman lamanya.Namun, waktu tidak pernah bernegosiasi dengan kesedihan. Tahun kedua dan ketiga berlalu dengan rasa sakit yang bertransformasi menjadi mati rasa.

Ketukan pintu yang dinanti tak kunjung tiba. Sosok Ela dalam ingatan Hamid perlahan memudar warnanya, menyisakan siluet kabur yang fana.Hamid sadar, hidup harus tetap berjalan dan ia tidak bisa selamanya mengunci diri dalam ruang patah hati.

Hingga pada suatu sore di tahun keempat, langkah kaki Hamid membawanya ke sebuah toko buku kecil di pinggir kota. Di sana, di antara aroma kertas tua dan rintik hujan, ia bertemu dengan Mawar.

Mawar adalah sosok yang berbeda.Jika Ela adalah misteri yang penuh teka-teki, maka Mawar adalah ketenangan. Mawar hadir tidak untuk menggantikan posisi Ela, melainkan membawa warna baru di taman hati Hamid yang telah lama gersang. Lewat senyum tulus dan obrolan hangat, Mawar perlahan membasuh pilu yang selama ini mengerak di dada Hamid.

Kini,Hamid kembali menatap jendela, Ia menarik napas panjang, melepaskan sesak yang sempat singgah. Ia tahu, di lubuk hatinya yang terdalam, ia telah memaafkan masa lalu.”Maafkan aku, Ela. Aku harus melangkah,” ucapnya dalam hati, bukan karena benci, melainkan karena hatinya butuh tempat bertumpu.

Ponsel Hamid bergetar,Sebuah pesan singkat dari Mawar masuk: “Jangan lupa pakai jaket, di luar dingin. Aku menunggumu di kafe biasa.Hamid tersenyum,Ia mengambil jaketnya, mengunci pintu rumah, dan melangkah mantap keluar.Pemuda yang dulu meratapi kehilangan Ela kini telah siap menggenggam jemari baru yang sudi menemaninya berjalan ke masa depan.

(By Vandamme)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *