CERPEN,
NURJATINEWS.COM – KARAWANG 31 MEI 2026
Layar ponsel Agus menyala, menampilkan nama yang sangat akrab sekaligus melelahkan baginya,Rodiah, Dua buah pesan singkat masuk.“Agus, aku kangen. Bisa kita ketemu di kafe biasa?”Agus menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
Kalender di dinding kamarnya seolah mengejek. Ini tahun ketiga. Tiga tahun sejak mereka pertama kali memutuskan untuk mengikat komitmen. Namun, alih-alih hubungan yang tumbuh mendewasa, yang terjadi justru sebuah siklus melelahkan.
Selama dua tahun pertama, hubungan mereka layaknya sebuah komidi putar. Rodiah akan pergi setiap kali ada ego yang berbenturan, memutus komunikasi, dan membiarkan Agus tenggelam dalam ketidakpastian.
Lalu, beberapa minggu kemudian,Rodiah akan kembali dengan air mata dan janji yang sama. Selama dua tahun itu pula,Agus selalu luluh. Ia selalu merajut kembali hatinya yang patah, menjadi pelabuhan yang selalu siap menerima Alya kembali.
Namun kini, waktu sudah memasuki tahun ketiga, Batas sabar Agus sudah mencapai titik jenuh tertinggi.Sore itu, Dimas memenuhi undangan Rodiah, Mereka duduk di sudut kafe yang biasa mereka datangi.
Rodiah menatapnya dengan tatapan bersalah yang sama, tatapan yang dulu selalu berhasil melunakkan hati Agus.”Agus, aku tahu aku salah kemarin. Aku egois, Tapi kali ini aku sadar, aku cuma mau sama kamu.
Kita sambung lagi ya?” ucap Rodiah lembut, mencoba meraih jemari Agus di atas meja.Agus menarik perlahan tangannya. Ia menatap lekat kedua mata Rodiah, bukan dengan amarah, melainkan dengan ketenangan yang asing.”Rodiah,” suara Agus terdengar berat namun sangat tegas.
“Tiga tahun kita berputar di labirin yang sama. Setiap kali kamu pergi, kamu menyisakan luka. Dan setiap kali kamu kembali, kamu anggap luka itu bisa sembuh hanya dengan kata maaf.”Tapi aku cinta sama kamu,Agus,” sela Rodiah, matanya mulai berkaca-kaca.”Cinta tidak membuat seseorang menggantung pasangannya berkali-kali,Rod.
Hatiku bukan jemuran yang bisa kamu gantung sesuka hatimu,” kata Agus tenang. “Dua tahun kemarin aku bertahan karena aku berharap kita berubah. Tapi di tahun ketiga ini, aku sadar, yang perlu diubah adalah keputusanku.
Dimas berdiri dari kursinya.Ia menaruh beberapa lembar uang di atas meja untuk membayar kopi mereka.”Ini bukan jeda sementara seperti dulu,Rod. Ini akhir yang nyata. Aku memilih untuk melepaskan mu, bukan karena aku benci, tapi karena aku ingin menyembuhkan diriku sendiri.
Selamat tinggal,Agus membalikkan badan dan melangkah keluar dari kafe. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, pundaknya terasa begitu ringan.Agus tidak lagi menoleh ke belakang, melangkah mantap menyambut masa depan yang baru.
(By Vandamme)



