Scroll untuk lanjut membaca
Ragam

CERPEN,BAHAR MENULIS TENTANG KEPULANGAN SEORANG GURU YANG DICINTAI MURID MURIDNYA.

0
×

CERPEN,BAHAR MENULIS TENTANG KEPULANGAN SEORANG GURU YANG DICINTAI MURID MURIDNYA.

Sebarkan artikel ini

CERPEN,BAHAR MENULIS NURJATINEWS.COMKARAWANG 28 MEI 2026

Bagi seorang jurnalis lapangan seperti Bahar, waktu adalah musuh utama. Hidupnya diatur oleh dering telepon editor, suara sirine ambulans, dan tenggat waktu (deadline) berita yang mencekik.

Namun, di tengah hiruk-pikuk dunia yang bising itu, ia selalu menemukan suaka pada diri Euis.Euis adalah seorang guru Sekolah Menengah atas,ia mendedikasikan hidupnya untuk memahat masa depan anak-anak dengan papan tulis dan kesabaran.

Dua dunia mereka sangat kontras,Saat Bahar sibuk memburu kebenaran di garis depan peristiwa,Euis sibuk menanam pelita ilmu di ruang kelas yang sederhana. Meski ritme hidup mereka bertubrukan, cinta tumbuh dengan perlahan namun kokoh.

Tiga tahun pertama hubungan mereka berjalan seperti harmoni yang indah. Pertemuan mereka sering kali terjadi di kedai kopi kecil dekat sekolah Euis. Di sela-sela waktu istirahat mengoreksi tugas murid-muridnya, Ayu akan mendengarkan Bahar bercerita tentang dunia luar yang kacau.

Sebaliknya,Bahar akan melupakan sejenak berita-berita berat demi mendengarkan cerita Euis tentang kepolosan murid-muridnya.Euis adalah jeda paling damai di tengah bisingnya dunia Bahar

Namun, memasuki tahun keempat, takdir menuliskan berita yang paling enggan Bahar kabarkan.Semuanya bermula dari batuk kecil Euis yang tak kunjung sembuh, hingga akhirnya vonis penyakit berat itu keluar dari mulut dokter.

Perlahan, tubuh Euis yang biasanya tegap berdiri di depan papan tulis mulai melemah. Ia terpaksa meninggalkan kelasnya, menyisakan kapur-kapur yang tak lagi tersentuh.

Bahar yang terbiasa mengejar berita ke berbagai penjuru, kini hanya ingin diam di satu tempat,di samping ranjang rumah sakit Euis. Ia menggenggam erat tangan Euis, mencoba membagi kekuatan yang ia punya.

Namun, garis takdir berkata lain,Di satu malam yang sunyi, Ayu mengembuskan napas terakhirnya dengan senyuman tipis yang selalu Bahar cintai.Keesokan harinya,Bahar duduk di depan laptopnya dengan air mata yang mengalir tanpa henti.

Sepanjang kariernya, ia telah menulis ratusan berita duka tentang bencana dan konflik.Namun hari itu, jemarinya gemetar hebat saat harus mengetik berita kehilangan yang paling menusuk jantungnya sendiri.Bahar menulis tentang kepulangan seorang guru yang dicintai murid-muridnya.

Di hari pemakaman, ruang kelas Euis tampak sunyi. Murid-muridnya datang membawa bunga, menangisi kepergian sang pelita.Bahar berdiri di sudut pemakaman, menatap tanah merah yang kini memeluk tubuh Euis.

Tiga tahun kebersamaan kini resmi menjadi memori abadi.Euis telah pergi, namun bagi Bahar, nama sang guru akan tetap abadi,bukan hanya media online tapi di lembaran tabloid tempatnya bekerja, melainkan sebagai bab terbaik dan paling indah dalam sejarah hidupnya.

(By Vandamme)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *