Ragam

Duh…, Azizah l Cerpen : Asyaro G Kahean

8
×

Duh…, Azizah l Cerpen : Asyaro G Kahean

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COMKARAWANG Wajahnya bulat telur. Dagu, terlihat lebih lancip dilingkupi jilbab. Hidung, agak bangir. Bulu mata, lentik; Kuyakini bulu mata itu asli, melingkupi sorot matanya yang tajam. Sesekali, sorot mata dia membuatku tersipu sendiri.

Sekali pun sorot matanya tajam, namun membuatku tetap saja curi-curi pandang bayangannya. Ya, bayangan dalam cermin spion interior atau interior mirror. Letaknya, berada di dekat sopir bus bagian atas. Tat kala aku menuju pulang ke Jakarta.

Duh…! Jika aku pandangi bayangan itu agak lama, diam-diam detak jantungku berdegup. Entah; Apakah gadis yang jaraknya dua tempat duduk di belakangku tahu akan ulahku? Huh, entahlah. Aku hanya berharap, dia tidak melihatku. Karenanya, aku mesti meningkatkan kehati-hatian.

Aku berekspresi diam dan kerap berusaha menunduk. Sering-sering, mata ini kukatupkan juga. Hanya saja, sering kali, mataku enggan diam dalam pajam; Curi-curi pandang ke bayangan di cermin lagi, dengan setengah melek.

Mataku, oh…! Tidak muncul rasa keberanian untuk menoleh ke belakang, sekadar melihat wajah aslinya.

Ehem. Tenggorokanku malah serasa kering. Kerongkonganku, kemudian menelan ludah sendiri. Lantas, terasa juga bibirku ikut kering; Kusapu saja dengan lidah. Selepas itu, kuteguk air mineral botol sedikit demi sedikit.

Melihat wajah di bayangan cermin interior mirror itu, serasa tidak asing lagi lho. Bentuknya. Lentik bulu matanya. Tahi lalat kecil di pangkal hidungnya. Aku merasa telah lama mengenalnya. Namun pada bentuk bibirnya, kok seperti terdapati perbedaan sedikit? Ya, bentuk bibir….

Ah, apa mungkin alam telah mengubah bibirnya? Oh ya, mungkin juga karena yang kulihat bayangan di cermin. Aku jadi khawatir, bukan orang yang telah lama kukenal. Mungkin dia hanya mirip, desisku dalam hati. Ya, mirip. Itu pasti….

Mirip sekali dia dengan muridku waktu masa-masa awal aku dapat tugas mengajar di Madrasah Aliyah Negeri. Kini, pada bibirnya, seperti ada perbedaan. Dan selintas, kupandang berbeda orang; Seperti bukan dia.

Pada gilirannya kuberanikan diri menatap bayangan di cermin itu dengan mata normal. Dalam bayangan, perempuan tersebut mengisap-isap bibir sendiri. Ehem.

Hah…? Diakah….!?, tanyaku di kalbu. Sepertinya benar, dia adalah Imas Musyrifah. Kemudian hari, kalau di kelas, dia sering kupanggil Azizah.

Kayaknya memang dia, salah seorang muridku dulu. Hanya saja, waktu aku mengajar di kelas dia satu semester saja. Pada semester genap. Dan mereka yang sekelas dengannya, lulus dari Aliyah. Akhirnya, kami tidak pernah jumpa.

***

Aku jadi ingat. Dia saat itu disukai Pak Erwin, guru olah raga. Pak Erwin masih bujangan sepertiku, tapi pastinya lebih tua dia. Hanya saja, kudengar-dengar, sesudah Azizah tamat Aliyah pendekatan Pak Erwin gagal; Tak ada kabar kelanjutannya. Faktor utama kegagalan, Pak Erwin dimutasi akibat pelanggaran etika.

Kasus Pak Erwin, kudengar-dengar, bukanlah karena perempuan. Melainkan hal lain yang mencoreng nama baik institusi.

Aku tak tahu persis kasus sebenarnya. Kami saat itu belumlah begitu akrab, karena sekira satu semester sesudah Azizah tamat, Pak Erwin sudah tak pernah hadir lagi. Kabar yang kuperoleh, Pak Erwin dimutasi ke luar daerah.

Oala…, konyol. Lagi-lagi seperti bukan Azizah yang kukenal lima tahun lalu ya. Bayangan cermin di atas sopir ada perbedaan. Bibirnya kok tampak berbeda, ya…. Apakah akibat tak pernah jumpa sekitar lima tahun kemudian alam mengubahnya? Ah, entah.

Aku jadi penasaran. Kucuri-curi pandang lagi lewat cermin yang sama. Kedua matanya terkatup. Eh, dia menguap. Namun, tangannya lekas-lekas menutup mulut. Duh, apakah dia Azizah?

Hm… Bibirnya disapu dengan lidah sendiri. Ujung lidah merah, bentuknya rada runcing. Wah, dia malah membelalakkan mata; Sorot matanya tajam; Seperti menunjukkan rasa tidak senang ke arahku. Seketika itu, aku langsung menunduk dalam diam.

Detak jantungku berdegup. Beberapa saat berikut, pandangan mataku kubuang jauh-jauh ke luar bus. Pandangan mataku menembus jendela kaca kendaraan yang melaju kencang di jalan tol ruas Karawang-Bekasi.

***

Sepertinya dia itu Azizah lho. Tetapi juga, sepertinya bukan. Dan perjalanan tiga jam di bus kali ini, kurasa-rasa kok terlalu cepat ya? Tidak lama lagi bus akan memasuki terminal tujuan akhir. Sedangkan wajah di bayangan cermin tersebut, dalam hitungan menit, akan hilang; Hanyut dalam jutaan beragam wajah di keramaian Ibukota.

Haruskah waktu yang tinggal beberapa menit ini kumanfaatkan menoleh ke bangku belakang? Sedangkan di benakku, disusupi rasa tidak enak hati; Kalau sampai, sosok yang terpantul dalam cermin itu tahu gelagatku.

Maksud hati semula, ketika perjalanan bus, aku akan banyak tidur. Namun, rencana hendak tidur terganggu bayangan melalui cermin. Hal ini membuat rasa kantukku menghilang.

Eh iya. Aku memang sangat kurang tidur beberapa hari ini. Bukan hanya padat kegiatan terkait karir dalam profesiku selama di Bandung. Malam hari, pada waktu-waktu istirahatku, ibuku sering nyerocos via ponsel. Beban pikiranku pun rasanya bertambah.

“Ahlan. Kapan kira-kira memperkenalkan calon istrimu, hayo. Kamu bilang sekitar pertengahan tahun ini. Ibu tunggu-tunggu lho; Kok belum ada kabar-rencananya?”

“Tolong doain Ahlan ya Buuu. Semoga apa yang ibu harapkan lekas terkabul,” jawabku sembari merasakan penat yang menghunjam di hampir semua organ tubuh.

“Ibu gak berhenti mendoakan, nak. Ibu pikir-pikir, rasanya ikhtiar kamu masih kurang semangat. Kamu ‘kan sudah pegawai negeri. Tamatan S-2 lagi. Masa sih, kalah sama anak-anak yang baru tamat S-1? Di sekitar kampung kita, mereka yang baru lulus sarjana saja rata-rata sudah pada nikah lho,” celetuk ibu.

Aku makin terhentak. Bingung. Bahasa apalagi yang mesti kusampaikan kepada ibu? Beberapa saat lamanya aku terdiam. Hingga ibu menegurku dengan lembut. Beliau mengingatkan agar aku terbuka dan berkata jujur.

“Iya bu, maaf. Ahlan rasakan cari jodoh yang cocok, sesuai syari’ah gak segampang membalik tapak tangan.”

“Sudahlah nak. Ibu juga gak memaksamu. Bagi ibu, sesuai syari’ah itu memang harus jadi pertimbangan yang matang. Maka itu, saran ibu tingkatkan lagi ikhtiarmu, hem?”

ibu kurasakan sangat bijaksana. Di tengah riuhnya gejolak kalbu menjawab permintaannya, beliau kurasa-rasa tetap konsisten memberi waktu hingga memberi saran.

Ya…! Alhamdulillah, ibuku mau memahami. Akan tetapi, bagaimana ikhtiar yang mesti aku tempuh sebagai penyeimbang doa-doa? Huh…

Pada akhirnya, aku berusaha menetralkan kalbu sendiri. Hanya saja, telepon ibu yang seperti itu tidak mudah juga terlepas dari benak.

Tatapan mataku pun terasa kosong beberapa saat. Sehingga bus yang kutumpangi memasuki gerbang terminal tujuan akhir baru tersadari lagi.

Aku tersentak. Ingatanku langsung ke bayangan dalam cermin interior mirror di atas sopir. Bayangan yang sangat mirip dengan Azizah itu telah berdiri. Terlihat, ia membenahi tas cangklong di pundak. “Duh, dia…,” desisku seketika.

Dengan rada-rada kikuk, aku pun berdiri perlahan. Secara mendadak muncul desakan dari kalbu untuk menoleh ke bangku kedua di belakang tempat dudukku. “Hemm…, kayaknya bukan dia?”

Bus yang kami naiki, telah berhenti sempurna. Aku bersikap tak buru-buru turun. Kubiarkan penumpang yang di bangku belakang tempat dudukku mendahului.

Kini, bukan lagi bayangan cermin yang coba kutatap. Eh, dia bergerak menuju pintu depan. Ah, kunanti saja dia sampai di depan hidungku.

Ya Rabbi…. Mengapa aku tidak percaya sejak awal, kalau yang membuat ada perbedaan di bagian wajahnya itu lipstick? Huuuuhhhh….

Pak Azis, kah…?!” tegur dia mendahului. Ia terhenti sejenak di depan hidungku, teriring tatapan sendu.

Duh…! Tiba-tiba degup jantungku berdetak lebih kencang dengan sendirinya.

“Dari mana?” sahutku bertanda tanya untuk mentralkan suasana, terutama suasana di batinku sendiri.

“Bandung, Pak. Apa Pak Aziz dari Bandung juga?”

“Heem…, ‘kan bus ini rutenya hanya Bandung-Jakarta, hehe,” kataku sambil nyengir.

“Eh iya ya Pak, hehe. Ayo Pak Aziz, kita turun dulu supaya yang mau turun lancar. Kita lanjut ngobrol di bawah,” ajak dia.

“Ayo… duluan lah,” sebutku, karena aku masih nyelip di tempat dudukku.

Setelah penumpang semua pada turun habis, barulah aku paling akhir. Begitu kuinjakkan kaki di aspal terminal, Azizah ternyata masih terlihat menantiku.

**

Sambil berjalan menuju Halte TransJakarta atau Busway, rasa canggungku akibat curi-curi pandang melalui cermin, serasa belum sirna juga. Akan tetapi, untuk menetralkan suasana, aku lebih tertarik menjelaskan bahwa Azis itu adalah nama panggilan ayahku.

“Nama saya itu untuk nama depan yaitu Ahlan. Ada pun Azis, aslinya Abdul Aziz nama ayah. Sehingga tepatnya: Ahlan bin Abdul Aziz, begitu.”

“Lho waktu bapak pertama mengajar di kelas kami, memperkenalkan diri gak begini. Bapak hanya bilang Ahlan Aziz. Malah bapak kadang konyol di sekolah. Seringkali manggil saya Azizah.”

“Iya, betul sekali. Itu saya akui.”

“Lha, bapak ini, gimana…. Azizah itu nama asli ibu kandung saya, lho Pak…”

“Hah, begitu? Maafkan saya ya… Saya juga mesti meminta maaf nih, kepada ibu kamu.”

“Sudahlah Pak, saya nggak apa-apa kok,” katanya. “Eh iya. Bapak mau naik busway yang jurusan mana ya?” lanjut dia.

“Jurusan Senen atau naik yang ke Kampung Melayu dulu, bisa….”

“Yach… saya juga ke arah yang sama lho Pak?”

Aku dan dia sama-sama nyengir kuda, karena ada kesamaan arah perjalanan di luar perencanaan. Jumpa kami kebetulan saja. Dalam obrolan, ia sempat menjelaskan, bahwa pergi ke Bandung kali ini urusan legalisir Ijazah di kampus UPI.

“Ya nggak apa-apa juga, kita bareng. Eh iya, begini; Mumpung kita ketemu nih. Hmm, kalau sekiranya ibu kamu ada, kalau kamu izinkan, saya akan mampir ke rumahmu…”

“Wah…! Biasanya sih, ibu ada di rumah. Gak kemana-mana ibu saya mah. Kalau mau mampir, pintu terbuka.” *** (sbr: awnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *