NURJATINEWS.COM – KARAWANG 13 JULI 2026
Tiga tahun lamanya, Anisa menatap langit malam Taiwan yang dingin. Tangannya kasar karena bekerja belasan jam sehari sebagai perawat lansia. Setiap bulan, tanpa sisa untuk dirinya sendiri, Anisa mengirimkan seluruh gajinya kepada Doni, suaminya di kampung halaman.
Pikirannya selalu sama: untuk membangun rumah impian mereka dan masa depan anak mereka. “Sabar, Nduk. Sedikit lagi rumah kita jadi,” bisik ibunya lewat telepon suatu hari.
Namun, badai itu datang setahun lalu. Seorang kerabat dekat mengirimkan video yang menghancurkan hidup Anisa. Di dalam rumah yang setengah jadi itu, Doni sedang tertawa terbahak-bahak, mengocok kartu judi, dikelilingi botol minuman keras dan seorang wanita simpanan.
Uang keringat Anisa yang dikirim dengan tetesan air mata, habis menjadi taruhan meja judi dan pemuas nafsu. Malam itu, dunia Anisa runtuh. Namun, ia tidak menangis di depan majikannya.
Ia menyimpan dendamnya rapat-rapat, mengunci rapat rasa sakitnya selama satu tahun berikutnya sambil menabung sisa kontrak kerja.Hari yang dinanti tiba.
Satu tahun setelah kebenaran pahit itu terungkap, Anisa menginjakkan kaki kembali di desanya. Doni menyambutnya di halaman rumah baru mereka yang megah dengan senyum manis yang kini terlihat menjijikkan bagi Anisa.”Kau sudah pulang, Istriku? Lihat rumah kita, besar kan?” ujar Doni tanpa dosa
Anisa tidak menjawab. Ia mundur beberapa langkah ke jalan raya. Di belakangnya, deru mesin berat terdengar. Sebuah buldoser besar bergerak maju, berhenti tepat di depan gerbang rumah.
Warga kampung mulai berkumpul, berbisik-bisik penuh tanya.”Anisa, apa-apaan ini?!” bentak Doni, wajahnya mulai pucat.Anisa menatap Doni dengan mata yang dingin, sekeras baja.
“Rumah ini berdiri dari darah dan keringatku di negeri orang. Tapi kau mengisinya dengan maksiat, judi, dan perempuan lain. Aku tidak sudi sejengkal pun tanah ini mencium bau penghianatan mu!
“Tanpa ragu, Anisa memberi aba-aba kepada operator buldoser. Hantaman pertama menghancurkan pagar beton. Hantaman kedua meruntuhkan ruang tamu tempat Doni biasa berjudi.
Suara gemuruh tembok yang roboh bersahutan dengan teriakan histeris Doni yang mencoba menghentikan alat berat itu, namun ditahan oleh warga yang tahu kelakuannya.
Di atas tanah yang kini dipenuhi puing-puing bangunan, Anisa melemparkan selembar kertas ke dada Doni. Surat gugatan cerai.”Hari ini, rumah ini hancur, dan hubungan kita selesai.
Aku pulang bukan untuk mengemis cinta yang busuk, tapi untuk mengambil kembali harga diriku,” ucap Anisa lantang. Ia berbalik arah, berjalan menjauh tanpa sekali pun menoleh ke belakang, meninggalkan Doni yang terduduk meratapi puing-puing keserakahannya.
(By Vandamme)


