NURJATINEWS.COM – KARAWANG 02 JUNI 2026
Lampu neon kota mulai berkedip genit,menandai giliran gincu merah bertaut bibir.Di bawah remang sudut jalan yang sempit,ada jiwa yang berpasrah pada takdir.Orang-orang menjulukinya noda masyarakat,memandang rendah tubuh yang dijajakan.
Namun di balik duka yang mengikat,ada dua pasang mata kecil yang harus dikenyangkan.Dua anaknya tidur pulas di kontrakan tua,beralas kasur tipis dan mimpi-mimpi polos.Mereka tidak tahu ibunya sedang terluka,menukar harga diri agar dapur tidak kosong melos.
Setiap kecupan asing yang singgah di raga,adalah biaya susu dan sebungkus nasi.Setiap hinaan yang menusuk dada Ia telan bulat-bullet demi esok hari hari.Maafkan Ibu, nak,” bisiknya dalam hati,saat membasuh air mata di kamar mandi umum.
Tubuh ini boleh dikutuk dunia sampai mati,asal senyum di wajah kalian tetap ranum.Ia bukan sekadar wanita malam yang fanaIa adalah singa betina yang terkoyak badai.Berjuang di kubangan hitam dunia,agar masa depan buah hatinya tetap selesai.
Waktu bergulir membawa pergi malam-malam kelam,gincu merah kini telah lama luntur dan tanggal.Tangan yang dulu menggenggam duka dalam-dalam,kini gemetar menyaksikan buah juang yang kekal.Dua anak kecil yang dulu tidur di kasur tipis,kini berdiri tegak dengan seragam dan kemeja rapi.
Mereka datang bukan lagi dengan tangis,tapi membawa seikat bangga yang tak pernah mati.Ibu, istirahatlah,” bisik si sulung dengan air mata haru,biar kami yang kini memeluk dan menjagamu.Sebuah rumah hangat kini mereka persembahkan,mengganti bilik sempit yang penuh penderitaan.
Si bungsu bersumpah di hadapan dunia yang dulu kejam,bahwa ibunya adalah pahlawan yang paling suci.Menghapus seluruh noda hitam yang tertanam,dengan penghormatan yang tulus dan abadi.Kini di teras rumah yang sejuk dan tenang,sang ibu tersenyum menatap langit sore yang terang.Telah ia tuntaskan tugasnya sebagai singa betina,melihat anak-anaknya hidup mulia dan bahagia.
(By Vandamme)



