Scroll untuk lanjut membaca
Ragam

PEREMPUAN SUCI BERDIRI DIATAS KAKI SENDIRI,MENJAGA KEHORMATAN HINGGA SENJA MENJEMPUT HARI.

0
×

PEREMPUAN SUCI BERDIRI DIATAS KAKI SENDIRI,MENJAGA KEHORMATAN HINGGA SENJA MENJEMPUT HARI.

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COMKARAWANG 27 JUNI 2026

Tiga tahun sudah roda sepeda menua,Menyusuri gang sempit, menyapa dunia.Memikul bakul berisi ramuan pusaka,Meramu asa demi sesuap nasi keluarga.

Takdir menggariskan ia menjadi janda,Ditinggal pergi sang kekasih tercinta.Dibalik senyum ramah penjual jamu keliling,Tersimpan peluh perjuangan yang tak terbilang.

Tiga tahun
lamanya berkeliling menjajakan jamu,Banyak mata menatap dengan berbagai ragam nafsu.Goda dan rayuan datang silih berganti,Menawar harga diri yang tak akan pernah ia jual mati,

Ada yang datang membawa janji manis berlimpah,Ada pula yang mencoba merayu dengan rupiah.Namun ia sadar, kehormatan adalah mahkota,Yang tak boleh luntur oleh bujuk rayu dunia.

Kunyit asam saksi bisu tetesan air mata,Beras kencur penawar dahaga di dadaIa adalah perempuan tangguh berhati baja.Menjaga kesucian meski badai godaan menerpa,Malam datang, bakul telah kosong tak bersisa.

Kaki melangkah pulang dengan rasa lelah mendera,Namun hatinya bersih, terjaga dari noda.Menjadi ibu sekaligus ayah bagi buah hatinya

Lima tahun berlalu, musim berganti rupa,Bakul jamu kini berganti gerobak roda.Sayur-mayur segar kini tersusun rapi,Menjadi sumber rezeki yang baru ia tekuni.

Langkah kakinya kini lebih mantap melaju,Meninggalkan aroma kunyit dan beras kencur masa lalu.Namun statusnya tetap sama, seorang jandaYang teguh menjaga diri dari kehancuran moral dunia.

Waktu lima tahun bukanlah waktu yang sebentar,Goda dan rayuan di pasar pun tak kalah menyengat.Mata-mata usil masih sering memandang rendah,Mencoba mencari celah di kala ia tampak lelah.

Ada pria mapan menawarkan istana instan,Ada pula yang berbisik menggoda di sudut jalanan,Namun benteng imannya sudah sekokoh karang,Tak goyah oleh materi, tak luntur oleh rayuan usang.

Hijau dedaunan dan merahnya cabai segar,Menjadi saksi prinsip hidupnya yang tak pernah pudar.Ia memilih mandiri dengan peluh mengucur deras,Daripada menggantungkan hidup pada janji yang culas,Kini sang buah hati mulai tumbuh dewasa.

Melihat sang ibu dengan rasa bangga di dada,Seorang perempuan suci yang berdiri di atas kaki sendiri,Menjaga kehormatan hingga senja menjemput hari

(By Vandamme)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *