Scroll untuk lanjut membaca
Ragam

CERPEN,DI DEPAN GEDUNG, KINI TERPARKIR SEBUAH MOBIL PICK UP PUTIH BARU YANG MENGKILAP.

0
×

CERPEN,DI DEPAN GEDUNG, KINI TERPARKIR SEBUAH MOBIL PICK UP PUTIH BARU YANG MENGKILAP.

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COMKARAWANG 27 JUNI 2026

Aroma daun kemangi segar selalu menjadi penanda dimulainya hari bagi Asih. Selama sepuluh tahun, rutinitasnya tidak pernah berubah.

Sejak jam tiga pagi, saat warga kampung masih terlelap, ia sudah sibuk menata sawi, mengikat bayam, dan menyusun tomat di warung kayu berukuran tiga kali empat meter di depan rumah mereka.

Tepat jam lima pagi, suara batuk dari motor bebek tua suaminya, Rahman, memecah keheningan. Rahman keluar membawa dua keranjang bambu besar yang terikat erat di jok belakang.

Ibu, Ayah berangkat keliling dulu.Titip warung, ya,” kata Rahman sambil membetulkan jaket usangnya yang mulai menipis.

Asih tersenyum, menyodorkan segelas teh hangat. “Hati-hati di jalan, Yah. Kalau mendung, langsung pakai jas hujan.”Sepuluh tahun bukanlah waktu yang sebentar.

Mereka melewati ban motor yang bocor di tengah guyuran hujan lebat, harga cabai yang melonjak naik, hingga sepinya pembeli di warung.

Namun, pembagian tugas itu tetap kokoh: Asih menjaga pangkalan, sementara Rahman menembus gang-gang perumahan, berteriak ramah menawarkan sayur kepada para ibu rumah tangga.

Modal mereka hanya satu, kesetiaan dan saling percaya.Lima tahun berikutnya, garis tangan mereka mulai berubah.

Berkat keramahan Rahman dan ketelitian Asih dalam memilih sayur berkualitas, beberapa pedagang keliling lain mulai menitip modal dan membeli sayur dalam jumlah besar dari mereka.

Pelan tapi pasti, warung kecil itu meluas menjadi sebuah gudang agen sayur.Pagi ini, tepat lima belas tahun sejak mereka pertama kali memulai usaha, tidak ada lagi suara motor tua yang terengah-engah.

Di depan gudang mereka, kini terparkir sebuah mobil pickup putih baru yang mengkilap, siap mengangkut puluhan karung kubis dan kentang langsung dari petani di kaki gunung.

Asih duduk di meja kasir, sibuk mencatat pesanan dari belasan pedagang eceran yang antre di depannya. Sementara Rahman, dengan kemeja yang rapi.

Tampak sibuk mengarahkan beberapa karyawan untuk memuat barang ke dalam mobil.Saat pandangan mereka bertemu di antara tumpukan sayur yang menggunung.

Rahman melempar senyum hangat kepada istrinya. Asih membalasnya dengan mata yang berkaca-kaca.Mereka tahu, mobil baru dan gudang yang ramai ini bukan sekadar simbol kekayaan, melainkan monumen dari setiap tetes keringat,doa, dan kesabaran yang mereka rajut bersama selama belasan tahun di jalanan sepi.

(By Vandamme)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *