Scroll untuk lanjut membaca
Ragam

KITA ADALAH DUA CERMIN SALING MEMANTULKAN LUKA,RINDU YANG MEMBAKAR,NAMUN JUGA MENYIKSA.

1
×

KITA ADALAH DUA CERMIN SALING MEMANTULKAN LUKA,RINDU YANG MEMBAKAR,NAMUN JUGA MENYIKSA.

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COMKARAWANG 25 JUNI 2026

Ada sepasang sayap yang terkoyak di dalam dada,Mengepak keras di ruang sunyi tanpa jeda.Kita adalah dua cermin yang saling memantulkan luka,Menyimpan rindu yang membakar, namun juga menyiksa.

Langkah ini terseok menembus kabut ilusi,Terkadang berlari menjauh karena takut pada emosi.Atau mengejar bayang semu yang tak kunjung pasti,Terjebak dalam siklus kelelahan yang tak henti-henti.

Duhai jiwa yang memantulkan napasku,Tarik-ulur ini menguras sisa-sisa ragaku.Mengapa ikatan ini begitu menyiksa batinku,Padahal dari sanalah cahaya terbesarku.

Aku lelah melawan semesta yang terus menyatukan kita,Saat ego dan takdir saling melempar dusta.Namun jauh di lubuk sunyi yang paling dalam,Kita tahu, kita adalah satu nyala yang harus padam untuk berpijar kembali

Aku melangkah maju, kau melangkah mundur,Saat tangan ini menggapai, kau memilih lebur.Kau berlari ketakutan melihat bayangmu di mataku,Sementara aku tersengal, mengejar kepastian yang semu.

Setiap kali aku mendekat, kau membangun dinding tinggi,Kau tak berkaca, kau hanya takut pada luka yang kembali.Namun semakin kau menjauh, tali tak kasat mata ini kian menjerat.

Membuat napas kita sama-sama terasa berat,Aku lelah menjadi pemburu bayang-bayangmu.Kau pun letih berlari dari takdir yang membelenggu,Ini bukan permainan menang atau kalah dalam cinta.

Ini adalah dua jiwa yang belum siap saling menerima,Sampai kapan kita bertukar peran dalam sunyi.Kau yang bersembunyi, aku yang mencari,Mungkin saatnya kita berhenti saling mengejar dan berlari.Dan membiarkan semesta menyembuhkan ego kita sendiri

(By Vandamme)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *