NURJATINEWS.COM – KARAWANG 09 JUNI 2026
Tiga kali musim kemarau berganti hujan,Sejak namamu terakhir kali kuucap dalam dekap perpisahan.Kamar ini masih menyimpan aroma tubuhmu,Di sudut ranjang, tempat dulu kita merajut waktu.
Malam-malamku adalah selimut dingin yang membeku,Mengeja bayangmu yang perlahan semu.Setiap detak jam dinding seolah mengejek kesendirianku,Menyisakan ruang hampa di dalam dadaku.
Aku wanita yang kini sendiri meniti hari,Berpura-pura tegar di antara keramaian dunia ini.Padahal di setiap sujud malam dan bait doa yang kupanjatkan,Hanya ada rindu yang menangis, meminta kepastian.
Apakah kau di sana bahagia melihatku bertahan?Melawan sepi yang kian pekat dan perlahan mematikan.Tiga tahun berlalu, tapi cintaku tetap utuh untukmu,Meski kini aku harus memeluk bayangmu dari kejauhan.
Lima tahun waktu bergulir dalam pekatnya sepi,Hingga ketukan di pintu itu mengubah sunyi.Kau datang membawa senyum yang serupa luka,Seorang duda yang juga paham arti ditinggal kekasih jiwa.
Matamu bercerita tentang kehilangan yang sama,Tentang malam-malam panjang penuh air mata.Namun di jemarimu, ada kehangatan yang baru,Mengikis perlahan sisa-sisa dingin di hatiku.
Kau tidak datang untuk menghapus masa laluku,Tapi menawarkan lentera untuk jalan ke depanku.Dua jiwa yang patah kini saling bersandar,Menumbuhkan kembali harapan yang sempat pudar.
Tahun kelima bukan lagi tentang ratapan pusara,Ini tentang keberanian untuk kembali bahagia.Bersamamu, aku belajar mengeja kata rela,Menyambut esok dengan senyum yang kembali menyala.
(By Vandamme)



