Scroll untuk lanjut membaca
Ragam

DUNIA MENDADAK RUNTUH TANPA SUARA,CINTA DUA TAHUN KITA MUSNAH SEKETIKA.

0
×

DUNIA MENDADAK RUNTUH TANPA SUARA,CINTA DUA TAHUN KITA MUSNAH SEKETIKA.

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COMKARAWANG 09 JUNI 2026

Dua tahun telah kita lukis hari,Dua puluh enam usiaku, lima puluh usiamu kini.Tak ada yang kebetulan dalam takdir Illahi,Saat hatiku berlabuh pada pria yang telah mengerti sepi.

Di awal langkah, dunia memandang dengan tanya,Tentang jurang waktu yang membentang di antara kita.Namun di balik kerutan di ujung matamu yang teduh,Aku menemukan rumah yang tak pernah rapuh.

Ada masa lalu yang pernah kau bina,Ada luka yang perlahan sirna oleh cinta yang sederhana.Dua tahun kita merajut sabar dan pengertian,Menyatukan dua jiwa dalam satu ikatan.

Bagi mereka, angka-angka kita tak sejalan,Bagi kita, ini adalah perjalanan penuh kematangan.Aku belajar ketenangan dari langkahmu yang mantap,Dan kau menemukan gairah muda dari tawaku yang senyap.

Dua tahun bukan waktu yang singkat,Melewati badai cemooh dengan hati yang melekat.Usia hanyalah angka dalam hitungan semesta,Cinta kita adalah kisah nyata, bukan sekadar cerita.

Terima kasih telah menjadi nahkoda yang bijak,Membimbing langkahku tanpa pernah beranjak.Dua puluh enam dan lima puluh,Adalah harmoni cinta yang utuh dan tumbuh.

Memasuki tahun ketiga, kemudi kita patah,Bukan karena badai dunia, tapi arah yang berubah.Lelaki yang kupeluk erat sebagai pelindung jiwa,Kini berbalik arah menuju pelukan ibu yang menjanda.

Dunia mendadak runtuh tanpa suara,Cinta dua tahun kita musnah seketika.Bagaimana mungkin pria yang paling kucintai,Kini bersiap menjadi ayah tiri yang harus kuhormati.

Ibuku yang sepi menemukan pelabuhannya,Pada pria yang sama yang pernah berjanji menjaga anaknya.Kisah kita berakhir di persimpangan yang gila,Menghancurkan hati yang tak tahu harus membenci siapa.

Aku berdiri di antara dua peran yang menyiksa,Sebagai mantan kekasih, atau anak yang berbakti pada orang tua.Cinta dua puluh enam tahunku harus mengalah,Demi kebahagiaan ibu, ego ini kupaksa rebah.

Kini di tahun ketiga, aku belajar melepaskan,Merelakan kekasihku menjadi bagian dari masa depan ibu dalam pernikahan.Bukan lagi harmoni cinta yang utuh kita sebut dahulu,Ini adalah takdir paling getir, merelakanmu menjadi ayahku.

(By Vandamme)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *