NURJATINEWS.COM – KARAWANG 17 JUNI 2026
Dua tahun pasca peninggalan suaminya, rumah bercat putih itu selalu terasa terlalu luas bagi sisa hidup Anisa.Sunyi adalah teman setianya setiap malam, tepat setelah putri tunggalnya,Maya, masuk ke dalam kamar.
Anisa tahu ia tidak kekurangan kasih sayang dari Maya. Namun, ada ruang kosong di sudut hatinya yang tidak bisa diisi oleh seorang anak,ruang yang membutuhkan sosok teman hidup untuk berbagi lelah di hari tua.
Hingga suatu hari, takdir mempertemukannya dengan Budiman, seorang pria santun berdiaspora sepi yang sama.Budiman berniat tulus untuk meminang Anisa.
Namun, ketika niat baik itu disampaikan kepada Maya, suasana ruang tamu mendadak sedingin es.”Ibu, cukuplah ada aku dan kenangan tentang Ayah,” ucap Maya malam itu, suaranya bergetar menahan ego.
Aku tidak butuh orang asing di rumah ini. Aku bisa menjaga Ibu.Anisa hanya terdiam. Di balik tatapan Budiman, ia melihat ketakutan besar.Budiman takut kasih sayang ibunya terbagi, dan ia takut posisi almarhum ayahnya akan digantikan.
Sejak malam itu,Anisa memilih mundur. Ia tidak ingin egois. Baginya, kebahagiaan Maya adalah segalanya, meskipun ia harus kembali memeluk sepi setiap malam.
Waktu terus berjalan, menguji kesabaran Anisa. Setahun penuh ia tidak pernah lagi membahas soal pernikahan. Ia tetap menjadi ibu yang utuh, memberikan perhatian tanpa batas kepada Maya, sambil diam-diam melangitkan doa di sepertiga malam agar hati putranya dilembutkan.
Budiman pun menunjukkan kelasnya sebagai pria yang anggun, ia tidak memaksa dan memilih menunggu dengan sabar di luar pagar kehidupan mereka.Hingga akhirnya, waktu menginjak tahun ketiga.Malam itu Maya pulang lebih lambat dari biasanya karena ada keperluan diluar rumah.
Dari kejauhan, ia melihat ibunya sedang duduk di teras rumah, tertidur dengan mukena yang masih melekat, memegang tasbih digital.Guratan lelah dan penuaan di wajah Anisa terlihat sangat jelas di bawah temaram lampu teras.
Seketika, hati Maya berdesir hebat, Sebuah kesadaran menghantam dadanya dengan keras. ‘Aku akan menikah, bekerja, dan membangun duniaku sendiri. Lalu, siapa yang akan menemani Ibu saat aku tidak ada? Siapa yang memijatnya saat ia sakit di tengah malam.
Ego yang dipeliharanya selama tiga tahun runtuh seketika oleh rasa bersalah.Keesokan harinya, saat sarapan pagi,Maya tidak langsung menyantap nasi gorengnya,Ia meraih tangan ibunya yang mulai keriput, lalu mengecupnya dengan takzim
Ibu,” bisik Maya lirih, matanya berkaca-kaca. “Menikahlah dengan Pak Budiman.Jemput kembali kebahagiaan Ibu.Maya ikhlas.Maya tahu, tidak ada yang bisa menggantikan Ayah di hati kita, dan Pak Budiman datang bukan untuk itu.
Beliau hadir untuk menjaga Ibu saat Maya tidak bisa ada di samping Ibu.”Air mata Anisa tumpah seketika. Tiga tahun penantian, air mata, dan kesabaran berbuah manis. Pelukan hangat Maya pagi itu meruntuhkan seluruh beban yang menggelayuti pundaknya selama ini.Langkah menuju pelaminan kini tidak lagi rapuh, karena restu paling berharga telah ia genggam.
(By Vandamme)



