Scroll untuk lanjut membaca
Ragam

CERPEN,DI ATAS RERUNTUHAN HATI YANG PERNAH PATAH,KINI PERLAHAN MENUMBUHKAN HARAPAN BARU.

3
×

CERPEN,DI ATAS RERUNTUHAN HATI YANG PERNAH PATAH,KINI PERLAHAN MENUMBUHKAN HARAPAN BARU.

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COMKARAWANG 17 JUNI 2026

Tiga tahun pertama setelah kepergian suaminya, dunia Dariah terasa berhenti berputar. Kamar tidur mereka masih menyimpan aroma parfum suaminya yang samar.

Setiap malam,Dariah hanya bisa menatap sudut ranjang yang kosong, ditemani detak jam dinding yang seolah mengejek kesendiriannya. Di depan orang lain,Dariah selalu melempar senyum tegar.

Namun saat pintu rumah tertutup, ia hanyalah seorang janda yang rapuh, menangis di atas sajadah menyuarakan rindu yang tidak ada ujungnya.Waktu terus merangkak hingga menembus angka lima tahun.

Luka itu tidak benar-benar hilang, tetapi Dariah mulai terbiasa berjalan berdampingan bersama rasa sepi.Hingga suatu sore di tahun kelima, ketukan di pintu rumahnya mengubah segalanya.

Pria itu bernama Sandy Ia adalah seorang duda di lingkungan rumah Dariah yang kehilangan istrinya akibat sakit beberapa tahun lalu.Sandi datang menghampiri Dariah untuk mengantarkan titipan dokumen warga.

Namun, sore itu obrolan mereka mengalir lebih jauh dari sekadar urusan tetangga.Saat mata mereka bertemu, ada pengertian mendalam yang tidak perlu diucapkan.

Dariah melihat kilat kesedihan yang sama di mata Sandy tatapan khas milik orang-orang yang pernah dihantam badai kehilangan. Mereka adalah dua jiwa yang sama-sama tahu rasanya ditinggal mati oleh separuh nyawa.

Aku tidak datang untuk meminta Anda melupakan masa lalu,” ujar Sandy malam itu, suaranya tenang dan menghangatkan. “Aku hanya ingin menawarkan tangan, jika Anda bersedia berjalan bersama menuju masa depan.

Kehadiran Sandy perlahan menjadi lentera di ujung jalan Dariah yang sempat gelap gulita. Pria itu tidak pernah memaksa Dariah untuk menghapus kenangan tentang almarhum suaminya.

Sebaliknya,Sandy menghargai ruang duka itu karena ia pun memilikinya.Di tahun kelima ini,Dariah akhirnya menyadari sesuatu. Mengizinkan diri sendiri untuk kembali bahagia bukanlah sebuah pengkhianatan kepada masa lalu.

Di atas puing-puing hati yang pernah patah,Dariah dan Sandy kini perlahan menumbuhkan harapan baru, siap menyambut hari esok dengan senyuman yang sempat padam

(By Vandamme)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *