Scroll untuk lanjut membaca
Ragam

CERPEN,KINI BUNDA WILLA SUSILAWATI TELAH MENJELMA MENJADI SEORANG IBU GURU YANG DIHORMATI.

5
×

CERPEN,KINI BUNDA WILLA SUSILAWATI TELAH MENJELMA MENJADI SEORANG IBU GURU YANG DIHORMATI.

Sebarkan artikel ini

NURJATINEWS.COMKARAWANG 24 JUNI 2026

Aroma oli dan deru mesin bising sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Bunda Willa Susilawati selama lima belas tahun.

Perempuan asal Patok Beusi Subang ini merantau ke Bekasi sejak usia muda, membawa dompet tipis namun penuh dengan mimpi besar.

Di lantai pabrik yang dingin,Bunda Willa Susilawati menempa diri menjadi sosok yang tangguh. Setiap tetes keringatnya adalah jembatan demi menghidupi keluarga di kampung halaman.

Namun, belasan tahun menjadi buruh pabrik tidak lantas membuat Bunda Willa Susilawati puas. Di tahun kelimabelasnya, sebuah pemikiran besar mengusik hatinya.

Ia tidak ingin selamanya berada di balik mesin produksi.Bunda Willa Susilawati ingin memajukan hidupnya. Akhirnya, ia mengambil keputusan nekat yang menguras fisik dan batin.

Bekerja sambil kuliah,Kehidupan Bunda Willa Susilawati berubah menjadi perlombaan melawan waktu.

Pagi hingga sore hari, tangannya cekatan merakit komponen di pabrik. Begitu bel pulang berbunyi, ia bergegas berganti pakaian dan memacu sepeda motornya menuju kampus.

Malam hari yang seharusnya dipakai untuk istirahat, justru ia habiskan untuk membaca buku dan mengerjakan tugas hingga larut.

Rasa lelah yang teramat sangat sering kali menggoda Bunda Willa Susilawati untuk menyerah, tetapi bayangan masa depan yang lebih cerah selalu berhasil membakar kembali semangatnya.

Perjuangan keras itu akhirnya membuahkan hasil manis. Hari yang dinanti tiba saat Bunda Willa Susilawati mengenakan toga hitam dan tersenyum bangga di atas podium wisuda.

Gelar sarjana pendidikan kini resmi bersanding di belakang namanya.Tidak butuh waktu lama bagi Willa untuk memutar kemudi hidupnya.

Ia resmi meninggalkan pabrik yang telah membesarkannya dan mulai mengabdi sebagai guru di sebuah Sekolah Dasar.

Kini, tangan yang dulunya akrab dengan mesin pabrik, dengan lembut memegang kapur dan spidol, menuntun anak-anak kecil mengeja masa depan.

Senyum anak-anak didiknya menjadi penawar lelah paling mujarab bagi Bunda Willa Susilawati.Meski sudah menjadi guru, jiwa pekerja keras Willa tidak pernah padam.

Di sudut ruang rumahnya, kini berdengung suara baru. Bukan lagi mesin pabrik, melainkan deru dari dua unit mesin jahit yang ia beli dari hasil tabungannya.

Sembari menyusun rencana pembelajaran untuk esok hari, Willa dengan teliti memotong kain dan menjahit pesanan pelanggan.

Bisnis konveksi kecil-kecilannya mulai berjalan, membawa berkah tambahan bagi hidupnya.Dari seorang bidadari perantau dari Subang di lantai pabrik Bekasi.

Kini Bunda Willa Susilawati yang anggun dan mempesona telah menjelma menjadi seorang Ibu Guru yang dihormati sekaligus pengusaha mandiri yang menginspirasi banyak orang di sekitarnya.

(By Vandamme)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *